TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Tiga bocah ingusan diamankan Satpol
Pamong Praja (Satpol) PP Kulonprogo karena tertangkap basah
mencoret-coret tembok
kantor Dinas Kesehatan setempat, Kamis
(5/6) malam. Mereka akhirnya diberi
sanksi untuk membersihkan hasil coretannya itu, Jumat (6/5).
Para pelaku vandalisme tersebut, sebut
saja Unyil (13) dan Ucrit (13), siswa
sebuah SMP Negeri di Wates serta Usro
(12), pelajar sebuah SD Negeri. Mereka kepergok warga sekitar lokasi saat
sedang asyik mencoret-coret tembok
menggunakan cat semprot sekitar pukul 20.30 WIB. Ketiganya lantas digelandang
ke pos Satpol PP untuk dimintai
keterangan.
Di tembok Dinkes itu, mereka mencoretkan
inisial nama masing-masing. Mereka pun
harus mempertanggungjawabkan eprbuatan
tak terpujinya itu dengan mengecat
kembali tembok yang dicoret. pekerjaan
megecat tembok itu pun jadi tontotan
orang yang melintas di sekitar lokasi.
Dari keterangan para pelaku, mereka
mengaku sudah beberapa kali
mencorat-coret tembok fasilitas umum. Di
antaranya di tembok SPBU Wates, tembok
sebuah rumah makan, dan lainnya. Menurut
salah satu pelaku, Unyil, dirinya hanya
memenuhi ajakan kedua rekan
sepermainannya itu.
"Usro yang punya ide. Catnya
diberi sama teman dia yang biasa
corat-coret," ujar Unyil yang
mengaku kapok dan berjanji tidak akan
mengulanginya lagi.
Kepala Satpol PP Kulonprogo, Duana Heru
mengatakan sanksi berupa pengecatan
ulang tembok itu dimaksudkan untuk
memberikan efek jera bagi pelaku.
Pihaknya dalam delapan tahun terakhir
ini kesulitan menangkap pelaku
vandalisme di Wates. Padahal, aksi
tangan-tangan jahil itu sudah sangat
meresahkan karena mengotori berbagai
fasilitas umum seperti taman dan tembok
rumah warga di berbagai titik. Hal ini
dirasanya akan menyulitkan terwujudnya
Kota Wates yang bersih dan perolehan
Adipura.
"Kami sangat sesalkan adanya aksi
vandalisme ini. Apalagi, pelaku yang
tertangkap ini ternyata masih siswa SD
dan SMP, bukan siswa SMA seperti yang
kami kira sebelumnya," kata
dia.(*)
Pages
▼
Sunday, June 8, 2014
Friday, June 6, 2014
Menjelang Ramadan, harga barang naik
TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Menjelang Ramadan, harga beberapa komoditas bahan makanan di Pasar Wates mulai merangkak naik. Kenaikan harga secara signifikan antara lain terjadi pada harga daging ayam dan telur.Berdasarkan pantauan Tribun Jogja, harga telur ayam di Pasar Wates saat ini mencapai Rp 18.500 perkilogram dari harga semula Rp 17 ribu. Daging ayam berada di kisaran harga Rp 27.000 per kilogram dari harga Rp 25 ribu di bulan sebelumnya.
Bawang merah kecil dari Rp 12.000 naik menjadi Rp 15.000, bawang merah besar dari Rp 17.000 menjadi Rp 20.000.Untuk harga daging sapi masih tetap pada kisaran Rp 95.000 hingga Rp 100.000 /kg sejak kenaikan Desember 2013 lalu. Harga gula kelapa juga naik sejak dua minggu lalu dari Rp 13.000 jadi Rp 15.000/kg, kalau gula pasir stabil Rp 9.500/kg.Menurut seorang pedagang, Rawiyati (63), kenaikan harga telur sudah terjadi sejak tiga hari terakhir dari sebelumnya stabil di kisaran Rp 17 ribu dalam waktu cukup lama. Dengan demikian, ada peningkatan Rp 500 per harinya.âœEntah apa penyebab naiknya. Saya hanya ikut harga dari penyuplai,â kata dua, Kamis (5/6/2014).Pedagang daging ayam, Wakijem (45), menyebutkan bahwa kenaikan harga memang lumrah terjadi pada masa awal puasa maupun menjelang Lebaran. Apalagi, sekarang ini juga sedang masa libur kenaikan sekolah dan banyaknya masyarakat yang menggelar hajatan.(*)
Bawang merah kecil dari Rp 12.000 naik menjadi Rp 15.000, bawang merah besar dari Rp 17.000 menjadi Rp 20.000.Untuk harga daging sapi masih tetap pada kisaran Rp 95.000 hingga Rp 100.000 /kg sejak kenaikan Desember 2013 lalu. Harga gula kelapa juga naik sejak dua minggu lalu dari Rp 13.000 jadi Rp 15.000/kg, kalau gula pasir stabil Rp 9.500/kg.Menurut seorang pedagang, Rawiyati (63), kenaikan harga telur sudah terjadi sejak tiga hari terakhir dari sebelumnya stabil di kisaran Rp 17 ribu dalam waktu cukup lama. Dengan demikian, ada peningkatan Rp 500 per harinya.âœEntah apa penyebab naiknya. Saya hanya ikut harga dari penyuplai,â kata dua, Kamis (5/6/2014).Pedagang daging ayam, Wakijem (45), menyebutkan bahwa kenaikan harga memang lumrah terjadi pada masa awal puasa maupun menjelang Lebaran. Apalagi, sekarang ini juga sedang masa libur kenaikan sekolah dan banyaknya masyarakat yang menggelar hajatan.(*)
Dua Gedung Pemkab Kulonprogo Dilanjutkan
Pembangunan
TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Pembangunan dua gedung milik Pemerintah Kabupten Kulonprogo yang sempat mangkrak akan segera dilanjutkan penyelesaiannya. Saat ini, rencana tersebut tengah memasuki masa pelelangan pekerjaan.Kepala Bagian Pembangunan Sekretariat Daerah Kulonprogo, Hendri Usdiarko membenarkan bahwa pembangunan gedung kantor Bupati dan Setda serta RSUD Sentolo itu akan dilanjutkan. Adapun sebelumnya, pembangunan sempat terhenti sejak akhir tahun lalu karena wanprestasi pihak kontraktor.âœLelang sisa pekerjaan sekarang sudah diproses di Unit Layanan Pengadaan,â kata dia, Kamis (5/6/2014).Berkas pelelangan untuk pekerjaan penyelesaian pembangunan RSUD Sentolo menurutnya sudah masuk ke ULP kemarin dan lelangnya akan dimumkan pekan ini melalui website Pemkab Kulonprogo. Pagu anggaran yang disipakan sebesar Rp 930 juta.Untuk rekanan yang berminat, menurutnya nanti akan ada unwishing (penjelasan tata cara) di lapangan."Ini untuk melihat secara nyata, kondisi sekarang seperti apa sehaingga mereka bisa menawar berapa kesanggupannya," jelasnya.Sedangkan untuk pengerjaan gedung Setda dan kantor bupati menurutnya sudah dua kali dilelang. Namun, karena saat itu hanya ada dua penawar, akhirnya lelang dinyatakan batal dan kemudian diulangi lagi.âœSekarang sudah masuk empat rekanan yang menawar. Hari ini kita evaluasi hingga Jumat (6/6), mudah-mudahan ada pemenangnya" imbuhnya.(*)
TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Pembangunan dua gedung milik Pemerintah Kabupten Kulonprogo yang sempat mangkrak akan segera dilanjutkan penyelesaiannya. Saat ini, rencana tersebut tengah memasuki masa pelelangan pekerjaan.Kepala Bagian Pembangunan Sekretariat Daerah Kulonprogo, Hendri Usdiarko membenarkan bahwa pembangunan gedung kantor Bupati dan Setda serta RSUD Sentolo itu akan dilanjutkan. Adapun sebelumnya, pembangunan sempat terhenti sejak akhir tahun lalu karena wanprestasi pihak kontraktor.âœLelang sisa pekerjaan sekarang sudah diproses di Unit Layanan Pengadaan,â kata dia, Kamis (5/6/2014).Berkas pelelangan untuk pekerjaan penyelesaian pembangunan RSUD Sentolo menurutnya sudah masuk ke ULP kemarin dan lelangnya akan dimumkan pekan ini melalui website Pemkab Kulonprogo. Pagu anggaran yang disipakan sebesar Rp 930 juta.Untuk rekanan yang berminat, menurutnya nanti akan ada unwishing (penjelasan tata cara) di lapangan."Ini untuk melihat secara nyata, kondisi sekarang seperti apa sehaingga mereka bisa menawar berapa kesanggupannya," jelasnya.Sedangkan untuk pengerjaan gedung Setda dan kantor bupati menurutnya sudah dua kali dilelang. Namun, karena saat itu hanya ada dua penawar, akhirnya lelang dinyatakan batal dan kemudian diulangi lagi.âœSekarang sudah masuk empat rekanan yang menawar. Hari ini kita evaluasi hingga Jumat (6/6), mudah-mudahan ada pemenangnya" imbuhnya.(*)
Harga Cabai Anjlok, Petani Cabai Mulai Jual Motor untuk Bayar Utang
Harianjogja.com, KULONPROGO-Anjloknya harga cabai memaksa ratusan
petani pesisir Selatan Kulonprogo menjual hewan ternak dan kendaraan
bermotor. Uang itu untuk membayar kredit bank yang dipinjam sebagai
modal menanam.
Dua pekan lalu, harga jual cabai merah keriting di tingkat petani
masih berkisar Rp4.000 per kilogram. Tidak berapa lama, harga kembali
turun di kisaran Rp3.000 per kilogram. Harga saat ini kian mengenaskan
dengan nominal Rp2.300 per kilogram.
Dari informasi yang dihimpun Harianjogja.com, modal satu kali tanam
membutuhkan biaya Rp10 juta sampai Rp100 juta, tergantung luas lahan.
Dengan modal tersebut, petani dapat menanam hingga 10 kepek atau
bungkus benih yang per bungkusnya seharga Rp10 juta.
Sukadi, petani cabai setempat misalnya. Ia mengaku terpaksa menjual
sepeda motornya untuk membayar utang bank. Sebenarnya, kata dia, hasil
panen cabai di lahan seluas 500 meter persegi kali ini dapat
menghasilkan dua kuintal cabai. Namun para petani tidak dapat
menikmati hasilnya karena terbebani pinjaman puluhan juta rupiah dari
bank untuk modal tanam.
Ia merasa prihatin dengan kondisi petani cabai di pesisir karena harga
jual yang tidak sebanding dengan ongkos produksi. Setidaknya, harga
jual satu kilogram cabai menyamai harga satu liter bensin.
Ketua kelompok tani Ngudi Hasil, Garongan, Suradi, menuturkan, petani
meminjam modal di bank untuk menanam dan akan dikembalikan setelah
panen. Sayang, harga jual cabai yang terlampau murah membuat petani
tidak balik modal.
Apalagi, jelas dia, petani biasanya juga memperkerjakan buruh lepas
yang bertugas memetik hasil panen. Rata-rata petani memperkerjakan 10
orang tenaga petik dengan upah Rp50.000 per hari yang kemudian
diturunkan menjadi Rp30.000 per hari karena harga jual cabai rendah.
Ia berharap dukungan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan ini,
misal memberikan dana talangan atau membantu urusan birokrasi dengan
bank, seperti memperpanjang masa jatuh tempo
Editor: Mediani Dyah Natalia
petani pesisir Selatan Kulonprogo menjual hewan ternak dan kendaraan
bermotor. Uang itu untuk membayar kredit bank yang dipinjam sebagai
modal menanam.
Dua pekan lalu, harga jual cabai merah keriting di tingkat petani
masih berkisar Rp4.000 per kilogram. Tidak berapa lama, harga kembali
turun di kisaran Rp3.000 per kilogram. Harga saat ini kian mengenaskan
dengan nominal Rp2.300 per kilogram.
Dari informasi yang dihimpun Harianjogja.com, modal satu kali tanam
membutuhkan biaya Rp10 juta sampai Rp100 juta, tergantung luas lahan.
Dengan modal tersebut, petani dapat menanam hingga 10 kepek atau
bungkus benih yang per bungkusnya seharga Rp10 juta.
Sukadi, petani cabai setempat misalnya. Ia mengaku terpaksa menjual
sepeda motornya untuk membayar utang bank. Sebenarnya, kata dia, hasil
panen cabai di lahan seluas 500 meter persegi kali ini dapat
menghasilkan dua kuintal cabai. Namun para petani tidak dapat
menikmati hasilnya karena terbebani pinjaman puluhan juta rupiah dari
bank untuk modal tanam.
Ia merasa prihatin dengan kondisi petani cabai di pesisir karena harga
jual yang tidak sebanding dengan ongkos produksi. Setidaknya, harga
jual satu kilogram cabai menyamai harga satu liter bensin.
Ketua kelompok tani Ngudi Hasil, Garongan, Suradi, menuturkan, petani
meminjam modal di bank untuk menanam dan akan dikembalikan setelah
panen. Sayang, harga jual cabai yang terlampau murah membuat petani
tidak balik modal.
Apalagi, jelas dia, petani biasanya juga memperkerjakan buruh lepas
yang bertugas memetik hasil panen. Rata-rata petani memperkerjakan 10
orang tenaga petik dengan upah Rp50.000 per hari yang kemudian
diturunkan menjadi Rp30.000 per hari karena harga jual cabai rendah.
Ia berharap dukungan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan ini,
misal memberikan dana talangan atau membantu urusan birokrasi dengan
bank, seperti memperpanjang masa jatuh tempo
Editor: Mediani Dyah Natalia
Tuesday, June 3, 2014
JMI Belum Berkontribusi, RPJMD Kulonprogo Berubah
Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha
TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO- Mundurnya jadwal pembangunan pabrik
pengolahan pasir besi di Kulonprogo memengaruhi banyak hal. Termasuk
juga perubahan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
2014.
Asisten II Sekda Kuloprogo, Triyono mengatakan ada beberapa asumsi
ekonomi yang tidak berjalan sesuai perencanaan awalnya. Termasuk di
dalamnya adalah belum adanya kontribusi dari PT Jogja Magasa Iron
sebagai perusahaan pemegang kontrak karya penambangan pasir besi di
pesisir Kulonprogo pada 2014 ini. Hal itu menyebabkan RPJMD 2014
Kulonprogo harus mengalami sedikit perubahan.
"Ada beberapa alasan untuk perubahannya, salah satunya belum ada
kontribusi dari JMI untuk tahun ini," kata Triyono, Selasa (3/6/2014).
Dia mengatakan, dokumen perubahan RPJMD tersebut saat ini tengah
disusun kembali. Pihaknya masih menunggu masukan dari tiap Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk perubahan tersebut. Diharapkannya
pekan ini juga dokumen perubahan RPJMD tersebut sudah selesai disusun
dan bisa segera disampaikan pada DPRD.
"Masukan dari SKPD kami terima paling lambat Kamis (5/6) ini dan
kemudian bisa segera disampaikan ke dewan," imbuhnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembanguann Daerah (Bappeda) Kulonprogo, Agus
Langgeng Basuki, mengatakan bahwa yang bisa diperhitungkan sebagai
kontribusi pemasukan dari JMI pada tahun ini hanya berasal dari
retribusi Izin Mendirikan Bangunan serta Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan (BPHTB).
Kontribusi aktif diperkirakannya baru akan bisa muncul pada 2015
mendatang, bersamaan dengan kontribusi dari pengembanagan kawasan
industri Sentolo dan Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarto di Temon.
"Untuk tahun ini, JMI kan belum ada pengambilan mineral. Jadwal
pembangunan pabriknya mundur dari yang sudah direncanakan," kata dia.
(*)
Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha
TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO- Mundurnya jadwal pembangunan pabrik
pengolahan pasir besi di Kulonprogo memengaruhi banyak hal. Termasuk
juga perubahan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
2014.
Asisten II Sekda Kuloprogo, Triyono mengatakan ada beberapa asumsi
ekonomi yang tidak berjalan sesuai perencanaan awalnya. Termasuk di
dalamnya adalah belum adanya kontribusi dari PT Jogja Magasa Iron
sebagai perusahaan pemegang kontrak karya penambangan pasir besi di
pesisir Kulonprogo pada 2014 ini. Hal itu menyebabkan RPJMD 2014
Kulonprogo harus mengalami sedikit perubahan.
"Ada beberapa alasan untuk perubahannya, salah satunya belum ada
kontribusi dari JMI untuk tahun ini," kata Triyono, Selasa (3/6/2014).
Dia mengatakan, dokumen perubahan RPJMD tersebut saat ini tengah
disusun kembali. Pihaknya masih menunggu masukan dari tiap Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk perubahan tersebut. Diharapkannya
pekan ini juga dokumen perubahan RPJMD tersebut sudah selesai disusun
dan bisa segera disampaikan pada DPRD.
"Masukan dari SKPD kami terima paling lambat Kamis (5/6) ini dan
kemudian bisa segera disampaikan ke dewan," imbuhnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembanguann Daerah (Bappeda) Kulonprogo, Agus
Langgeng Basuki, mengatakan bahwa yang bisa diperhitungkan sebagai
kontribusi pemasukan dari JMI pada tahun ini hanya berasal dari
retribusi Izin Mendirikan Bangunan serta Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan (BPHTB).
Kontribusi aktif diperkirakannya baru akan bisa muncul pada 2015
mendatang, bersamaan dengan kontribusi dari pengembanagan kawasan
industri Sentolo dan Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarto di Temon.
"Untuk tahun ini, JMI kan belum ada pengambilan mineral. Jadwal
pembangunan pabriknya mundur dari yang sudah direncanakan," kata dia.
(*)
