Tourist knows Yogyakarta Indonesia

Top reviews

Tuesday, May 27, 2014

Niat Mau Dinikahi, Malah Ditinggal di SPBU

KULONPROGO ( KRjogja.com)-Mar (38), Tenaga Kerja Wanita (TKW) asalah

Tulungagung Jatim tertipu kenalan barunya di jejaring sosial facebook

RS (40), Minggu (25/05/2014). Mar rela terbang dari Hongkong untuk

menemui kenalannya dari Yogya karena dijanjikan mau dinikahi. Namun,

harus kehilangan uang Rp 6 juta, ATM, paspor dan KTP Hongkong.



Bahkan setelah bertemu di hotel di YogYa, Mar diturunkan di SPBU di

wilayah Sentolo dengan alasan disuruh salat dulu, Senin (26/05/2014)

dini hari. Akhirnya, Mar ditinggal kabur dan lantaran dianggap orang

terlantar, petugas Polses Sentolo membawanya ke Kantor Satpol PP

Kulonprogo. (Wid)



Mar mengaku dirinya sudah tidak punya apa-apa lagi selain baju yang

melekat di tubuhnya. "Karena ATM ikut dibawa kabur, dengan bantuan

petugas maka ATM langsung saya blokir. Sementara RS sekarang entah

dimana, bahkan facebook saya juga sudah diblokirnya dan foto-foto dia

yang ada di facebook sudah tidak ada lagi,"kata Mar janda tanpa anak

ini. (Wid)
Share:

Niat Mau Dinikahi, Malah Ditinggal di SPBU

KULONPROGO ( KRjogja.com)-Mar (38), Tenaga Kerja Wanita (TKW) asalah

Tulungagung Jatim tertipu kenalan barunya di jejaring sosial facebook

RS (40), Minggu (25/05/2014). Mar rela terbang dari Hongkong untuk

menemui kenalannya dari Yogya karena dijanjikan mau dinikahi. Namun,

harus kehilangan uang Rp 6 juta, ATM, paspor dan KTP Hongkong.

Bahkan setelah bertemu di hotel di YogYa, Mar diturunkan di SPBU di

wilayah Sentolo dengan alasan disuruh salat dulu, Senin (26/05/2014)

dini hari. Akhirnya, Mar ditinggal kabur dan lantaran dianggap orang

terlantar, petugas Polses Sentolo membawanya ke Kantor Satpol PP

Kulonprogo. (Wid)



Mar mengaku dirinya sudah tidak punya apa-apa lagi selain baju yang

melekat di tubuhnya. "Karena ATM ikut dibawa kabur, dengan bantuan

petugas maka ATM langsung saya blokir. Sementara RS sekarang entah

dimana, bahkan facebook saya juga sudah diblokirnya dan foto-foto dia

yang ada di facebook sudah tidak ada lagi,"kata Mar janda tanpa anak

ini. (Wid)
Share:

Sunday, May 25, 2014

Pembangunan Bandara Kulonprogo Dilelang Internasional

WATES ( KRjogja.com)- PT Angkasa Pura I tetap komitmen dan konsisten

terhadap rencana pembangunan bandara di Kabupaten Kulonprogo. Saat ini

telah siap dana dan bahkan telah melakukan lelang internasional untuk

pengerjaannya. Selain masih menunggu Kawasan Keselamatan Operasi

Penerbangan (KKOP) yang dalam proses, PT AP I juga masih menunggu

dokumen lain terkait perencanaan pembebasan tanah.



Hal itu terungkap dalam pertemuan antara Presdir PT AP I Tommy Soetomo

dan jajarannya dengan Bupati Kulonprogo dr H Hasto Wardoyo SpOG(K),

Jumat (23/05/2014) sore, di rumdin bupati. Dalam kesempatan itu

Bupati didampingi Wabup, Forkompinda, SKPD, dan unsur lainnya.



Dengan Pemkab Kulonprogo dalam kesempatan itu dibahas terkait

perkembangan master plan, KKOP dan yang lain misalnya, dengan pabrik

besi yang sempat dipertanyakan. Setelah pertemuan dengan Pemkab

Kulonprogo, Senin (26/05/2015) PT Angkasa Pura I akan bertemu

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.



Dikatakan Sekretaris PT AP I, Farid Indra Nugraha, pihaknya tidak

perlu menunggu dokumen KKOP terbit dalam melaksanakan tahapan lainnya

dalam rencana pembangunan bandara. "Karena sembari menunggu proses

KKOP terbit, kami tetap melakukan melengkapi dokumen lainnya agar

semua dapat terselesaikan. Karena bila semua siap maka PT AP I dan

Gubenur DIY akan konsolidasi ke lapangan," katanya.



Terkait komitmen PT AP I, Bupati Kulonprogo dr H Hasto Wardoyo SpOG

mengaku senang dan menyambut baik. Pemkab juga siap melakukan tugas

sesuai kewenangannya, terutama dalam ujung tombak dan juga dalam

tataran grassroots. "Terhadap adanya warga yang sudah menerima, belum

menerima, dan netral karena masih menunggu akusisi lahan, sudah kami

laporkan dan itu direspons oleh PT AP I. Mereka (PT AP I) justru

minta semua agar bisa dipercepat realisasinya. Contohnya sambil

menunggu izin penetapan lokasi (ILP) Gubenur, maka kelengkapan dokumen

lain segera dilakukan,"ujar Hasto.

Saat ini, kata Hasto, PT AP I sudah melakukan lelang internasional

pengerjaan pembangunan bandara internasional. "Sedangkan untuk

sosialisasi, pemkab menunggu terbentuknya Tim Appraisal Independent,

agar masyarakat lebih jelas terkait akusisi lahan. Karena ini penting

dan ditunggu masyarakat agar semua jelas,"katanya. (Wid)
Share:

Friday, May 23, 2014

Polisi Gelar Rekonstruksi Guru Bunuh Guru di SLB Wates

Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha



TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO -Penyidik Satreskrim Polres Kulonprogo

menggelar reka ulang (rekonstruksi) kasus kejadian pembunuhanterhadap

Rina Astuti (37), guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Rela Bhakti 2,

Triharjo, Wates, Jumat (23/5/2014). Tersangka dipastikan akan dijerat

dengan pasal tentang pembunuhanberencana.



Seperti diketahui, Rina tewas setelah ditusuk dengan pisau oleh rekan

kerjanya sendiri sesama guru di sekolah tersebut, Sugiyanto (45), awal

Mei lalu. Peristiwa terjadi dalam lingkungan sekolah usai siswa

melakukan latihan kesenian. Rina pada akhirnya tewas dalam perjalanan

ke rumah sakit setelah menderita 25 luka tusukan di tubuhnya.



"Reka ulang dimaksudkan supaya ada kesesuaian antara hasil pemeriksaan

penyidik dengan kejadian sebenarnya di lapangan," kata Kapolsek Wates,

Kompol Kodrat di sela rekonstruksi.



Menurutnya, reka ulang berlangsung dalam 16 adegan. Dimulai dari saat

tersangka datang ke sekolah dengan sudah membawa pisau dari rumah.

Pisau tersebut diselipkannya di bagian depan celananya dan tertutup

baju. Penusukan pertama dilakukan tersangka saat dirinya bertemu

dengan korban di dalam ruang bina diri, seusai korban mengawasi siswa

berlatih kesenian jathilan.



Korban saat itu sempat berusaha melawan namun pelaku tetap menusuknya

berulang kali. Korban lantas berlari ke luar ruangan hingga jatuh

tertelungkup di teras ruang kelas. Pelaku kemudian kembali menusuk

korban di bagian punggung. Adegan berlanjut ketika tersangka

ditenangkan rekan guru lainnya dan kemudian diamankan ke kantor

polisi.



Dari reka ulang tersbeut, kata Kodrat, diyakinkan bahwa tersangka

memang sudah merencanakan penusukan tersebut. Maka itu, penyidik akan

tetap menjeratnya dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhanyang

direncanakan. "Pelaku terancam hukuman seumur hidup," katanya.(*)
Share:

Thursday, May 22, 2014

Gaet Wisatawan, Arung Jeram Arus Progo Tambah Peralatan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO- Dinas Pariwisata DIY menyerahkan bantuan

sejumlah peralatan bagi pengelola wisata rafting (arung jeram) Arus

Progo di Pedukuhan Krisik Kreo, Banjararum, Kalibawang, Kamis

(22/5/2014). Penambahan peralatan diharapkan akan menunjang aktivitas

wisata minat khusus dan semakin banyak menggaet wisatawan.

Kasi Sarana Prasarana dan Usaha Jasa Pariwisata, Dinpar DIY, Ahmad

Suabadi mengatakan, bantuan yang diserahkan bernilai total Rp 191

juta. Terdiri atas 4 buah perahu karet dan 1 unit perahu kayak beserta

kelengkapannya, beberapa unit perlengkapan pengamanan (safety) seperti

jaket pelampung, helm, throwing bag, dan juga dry bag serta perangkat

komunikasi Handy Talkie (HT) dan juga satu unit kamera waterproof.

"Wahana Arus Progo ini kan satu-satunya wisata rafting di DIY, jadi

kami berusaha memfasilitasinya supaya bisa semakin berkembang," kata

Ahmad.

Dijelaskan, pihak pengelola Arus Progo sebelumnya mengajukan proposal

bantuan pada dinas untuk sarana dan prasana pendukung, termasuk

permohonan bantuan pembangunan fisik basecamp di Krisik Kreo. Namun,

pihaknya hanya bisa memberikan beberapa poin saja yang bisa

disesuaikan dnegan ketersediaan anggaran.

Dia mengatakan, keberadaan wisata rafting arus bawah kali Progo ini

menambah destinasi wahana wisata ekstrim di DIY selain panjat tebing

di Pantai Siung dan caving Goa Jomblang yang ada di Gunungkidul.

Pemberian bantuan tersebut diharapkan bisa mendorong perkembangan

wisata rafting di Sungai Progo tersebut sehingga semakin banyak

wisatawan lokal hingga mancanegara yang datang.

Apalagi, selama ini, kebanyakan wisatawan yang datang ke DIY cenderung

lari ke Magelang untuk melakukan rafting. "Paling tidak, dengan adanya

Arus Progo ini, DIY punya wisata rafting sendiri dan berpengaruh pada

angka kunjungan wisatawan. Diharapkan juga, wisatawan akan semakin

lama stay di Yogyakarta," imbuh Ahmad.( Tribunjogja.com)
Share:

Kulonprogo Alokasikan 453 Jamban untuk 12 Kecamatan

Harianjogja.com, KULONPROGO--Pada 2014, Dinas Kesehatan Kulonprogo

telah mengalokasikan 453 unit jamban sehat di 12 kecamatan.

Kasi Penyehatan Lingkungan Dinkes Kulonprogo Rustopo mengatakan, tahun

ini akan ada deklarasi bersama agar masyarakat tidak lagi BAB

sembarangan. Beberapa wilayah di kabupaten ini juga masih belum

memiliki jamban sehat yang layak.

"Wilayah yang belum punya jamban di antaranya Kokap, sebagian Sentolo,

dan Girimulyo hampir merata," jelas Rustopo, Selasa (20/5/2014).

Jamban sehat seperti yang dimaksudkan Dinkes yakni tak hanya memenuhi

syarat kesehatan dan bersih. Namun, jamban sehat juga harus memiliki

nilai estetika.

Pembuatan septictank harus tepat, harus ada tutupnya. Hal utama

lainnya jangan sampai mencemari lingkungan atau air, usahakan jarak

jamban dengan sumber air lebih dari 10 meter.



Editor: Nina Atmasari
Share:

Wednesday, May 21, 2014

Warga yang Tolak Raskin Berarti Masuk Golongan Mampu

Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha



TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO -Pemerintah Kabupaten Kulonprogo menilai

sikap warga Sidorejo, Desa Glagah, Temon yang menolak menerima beras

miskin ( Raskin) akan merugikan warga sendiri. Klarifikasi akan

dilakukan Pemkab untuk mencari tahu duduk permasalahan sebenarnya.

Sekretaris Daerah Kulonprogo, Astungkoro mengatakan, warga yang

menolak raskin tersebut dengan kata lain menyatakan dirinya termasuk

golongan mampu. Hal ini akan menyebabkan warga tersebut secara

otomatis akan tereliminir dari daftar penerima program bantuan sosial

lainnya dari pemerintah, semisal program beasiswa.



"Kalau dia (warga) menolak, berarti dia menyatakan dirinya mampu.

Risikonya, tidak hanya di raskin tapi juga ada beberapa hak bagi warga

miskin yang tidak akan mereka dapatkan. Itu kan pemberiannya

berdasarkan kartu jaminan sosial," kata Astungkoro, Rabu (21/5/2014).



Seperti diketahui, 25 kepala keluarga di Sidorejo yang juag tergabugn

dalam Wahana Tri Tunggal itu menolak mengambil jatah raskin meski

sudah terdaftar sebagai penerima.

Alasan utama penolakan tersebut terkait rencana pembangunan bandara

internasional di Temon yang akan menggusur lahan warga. Maka itu,

mereka lalu berkomitmen untuk menolak segala bentuk bantuan dari

pemerintah.( Tribunjogja.com)
Share:

Bela Beli Kulonprogo Selaras dengan Nasionalisme

Harianjogja.com, KULONPROGO--Slogan Bela Beli Kulonprogo sesuai dengan

semangat nasionalisme kekinian. Hal tersebut diungkapkan Wakil Bupati

Kulonprogo, Sutedjo, dalam upacara Hari Kebangkitan Nasional di

halaman kantor Pemkab Kulonprogo, Selasa (20/5/2014).



Bertindak sebagai inspektur upacara, Sutedjo, membacakan sambutan

Menteri Komunikasi dan Informatika, mengungkapkan, peringatan

Harkitnas ke-106 mengusung tema Maknai Kebangkitan Nasional Melalui

Kerja Nyata dalam Suasana Keharmonisan dan Kemajemukan Bangsa, yang

berarti, makna nasionalisme kekinian bukan lagi kamuflase kerinduan

romantisme perjuangan masa lalu.



"Tetapi bagaimana mengimplementasikan romantisme perjuangan tersebut

kedalam pola pikir, pola sikap dan perilaku kebangsaan selaras dengan

tuntutan zaman," ujarnya.

Menurutnya, rasa kebangsaan nasionalisme sekarang ini harus

disesuaikan dengan era kehidupan berbangsa. Implementasinya, penguatan

rasa kebangsaan nasionalisme secara nyata di daerah.

Diterangkannya, sejak awal pemerintahan, Hasto mengajak masyarakat

untuk Bela Beli Kulonprogo, yakni menggunakan produk lokal Kulonprogo

sehingga tercipta kemandirian sebagai bagian dari bangsa yang hidup di

daerah.

Editor: Nina Atmasari
Share:

Penolakan Raskin Diduga Terkait Penolakan Bandara

Harianjogja.com, KULONPROGO- Penolakan beras miskin (raskin) oleh

warga Dusun Sidorejo, Desa Glagah, Kecamatan Temondiduga terkait

penolakan pembangunan bandara internasional yang rencananya berlokasi

di kawasan tersebut.



Saat Harian Jogja mendatangi kediaman warga Sidorejo, tidak seorang

pun bersedia berkomentar tentang penolakan raskin. Mereka memilih diam

dan menjauh.

Sarijo, salah satu tokoh masyarakat Sidorejo sekaligus tokoh Wahana

Tri Tunggal (WTT), mengungkapkan, warga Sidorejo tidak akan menerima

bantuan dari pemerintah dalam bentuk apapun sampai rencana pembangunan

bandara di Kulonprogo batal.



"Selain itu warga juga sakit hati dengan sms yang diterima dari desa

yang menanyakan apakah warga mau menerima raskin atau tidak,"

jelasnya, Rabu (21/5/2014).



Ia menegaskan, keinginan warga saat ini bukanlah menerima bantuan dari

pemerintah melainkan bupati Kulonprogo datang dan menyetujui

permohonan warga untuk menggagalkan rencana pembangunan bandara di

Kulonprogo.



Tokoh masyarakat Sidorejo, Saryono, enggan berkomentar banyak terkait

hasil pertemuan antara perwakilan warga Sidorejo dengan Kepala Desa

Glagah. "Saya hanya menyampaikan keinginan warga yang tidak ingin

menerima raskin," imbuh dia.

Anggota tim raskin Kulonprogo, Heri Widada, mengatakan, akan melakukan

klarifikasi terlebih dulu ke lapangan untuk menemukan alasan warga

menolak raskin. "Kami akan memanggil aparat desa untuk dimintai

keterangan terlebih dulu," tandasnya.

Editor: Nina Atmasari
Share:

Pemkab Siap Melangkah Sesuai Kewenangan

KULONPROGO ( KRjogja.com)- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo

menyambut positif turunnya izin Kawasan Keselamatan Operasi

Penerbangan (KKOP) dari Pusat. Dengan adanya dokumen tersebut maka

satu tahapan proses rencana pembangunan bandara di pesisir selatan

Kecamatan Temon sudah terlewati, sehingga tinggal menunggu Ijin

Penetapan Lokasi (IPL) Gubernur turun.



"Meski Pemkab belum dikasih tahu perihal turunnya ijin KKOP. Tapi kami

tetap senang dan berharap IPL Gubernur juga segera turun. Dengan

demikian rencana pembangunan bandara bisa memasuki tahapan

berikutnya," kata Wabup setempat Drs Sutedjo menanggapi turunnya ijin

KKOP saat menghadiri Pembukaan TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) ke-92,

di Lapangan Desa Kaliagung, Sentolo, Rabu (21/05/2014).



Sekda setempat Ir RM Astungkoro mengaku belum bisa berkomentar banyak

tentang masalah tersebut. "Soalnya saya belum tahu persis selesainya

KKOP seperti apa. Karena memang belum dapat informasi," tegasnya.



Meski secara fisik Wabup dan Sekda belum melihat dokumen ijin KKOP,

tapi dengan munculnya pernyataan Gubernur DIY Sri Sultan HB X di media

massa menunjukan kalau tahapan proses rencana pembangunan bandara di

Kulonprogo mengalamai kemajuan.

"Untuk selanjutnya Pemkab mengikuti tahapan-tahapan berikutnya tentu

saja sesuai porsi dan kewenangan kami mengingat Tim Persiapan

Pembangunan Bandara tidak hanya dari kabupaten tapi juga Pemerintah

DIY dan PT AP. Pemkab akan melaksanakan sesuai ketugasan. Pembagian

tugasnya kan sudah sangat jelas," ujarnya.

Dengan telah turunnya dokumen KKOP, maka baru satu dokumen yang telah

selesai, sedangkan dokumen lain yang saat ini sedang dikerjakan,

pengadaan lahan yang merupakan bagian dari IPL Gubernur dan dokumen

lingkungan atau Amdal. "Terkait persoalan PT JMI dan PT AP, saya belum

bisa komentar karena belum lihat KKOP-nya. Tapi kalau KKOP sudah turun

maka persoalan antara dua perusahaan tersebut sudah clear. Karena yang

jadi persoalan kan ada di KKOP tersebut," terang Sekda.

Mengenai sosialisasi bandara, Pemkab bersama PT AP terus membangun

komunikasi dengan warga. "Persiapan sosialisasi terus kami lakukan

sembari menunggu AP. Pemkab tetap menjalin komunikasi baik dengan

warga yang menolak maupun mendukung. Dari enam desa yang masuk lokasi

bandara lima desa sudah wellcome. Perkara mereka menolak itu bagian

dari proses," ujarnya.(Rul/Wid)
Share:

Archive

Breaking News

Wikipedia

Search results