Tourist knows Yogyakarta Indonesia

Top reviews

Saturday, April 4, 2015

Petani Tewas Bersimbah Darah di Depan Ruma

Harianjogja.com, KULONPROGO-Seorang petani, Parno, 55, ditemukan tewas

bersimbah darah di depan pintu rumahnya yang berlokasi di Dusun Kamal,

Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, Sabtu (4/4/2015) dini hari.

Hingga kini pelaku pembunuhan masih dalam pencarian.

Informasi yang dihimpun, sekitar pukul 02.00 WIB, istri korban,

Mujiyem, 55, mendengar pintu kamar korban diketuk. Pasangan suami

istri tersebut diketahui tidak tidur sekamar.

Mendengar suara ketukan, Mujiyem bertanya kepada korban dari ruangan

sebelah. Tetapi tidak ada jawaban, sehingga ia membuka pintu

ruangannya dan menemukan korban sudah terkapar dengan bersimbah darah.

Ia segera memanggil anaknya untuk memberitahu kejadian tersebut kepada

adik kandung korban, Narimo, 36, yang rumahnya bersebelahan.

Korban dilarikan ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Kenteng Nanggulan

kemudian diautopsi di RSUP Dr. Sardjito.
Share:

Kulon Progo Susun Skenario Relokasi Terkait Bandara

Kulon Progo- Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa

Yogyakarta, akan segera menyusun skenario relokasi warga yang terkena

dampak pembangunan bandara baru yang rencananya dibangun di Kecamatan

Temon.

"Skenario relokasi masih menunggu appraisal independent atau penilai

independen yang akan menetapkan harga tanah. Harga tanah sangat

menentukan relokasi warga terdampak bandara," kata Bupati Kulon Progo

Hasto Wardoyo di Kulon Progo, Sabtu (4/4)/

Ia mengatakan bahwa Pemkab Kulon Progo masih mengakomodir harapan

warga. Pihaknya masih berupaya supaya warga terdampak bandara

mendapatkan 500 sampai 1.000 meter persegi setiap kepala keluarga

(KK), dengan total kebutuhan lahan 43 hektare yang akan diambil dari

tanah kas desa. Lokasi relokasi tidak jauh dari lokasi bandara

sehingga masyarakat bisa membuka usaha.

"Nilai akuisisi lahan akan menentukan ralokasi warga. Setelah harga

ditetapkan oleh penilai independen, relokasi segera kami tetapkan.

Mudah-mudahan dalam satu bulan ini," kata warga yang masih belum

terima atas ganti rugi lahan, mereka berhak mengajukan keberatan ke

Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).Hasto.

Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian Pembangunan dan SDA

Setda Kulon Progo Triyono mengatakan, proses pembebasan lahan masih

panjang karena membutuhkan waktu 218 hari. Kalau dihitung sejak 31

Maret 2015, maka akan selesai akhir Maret 2016.

"Namun, Gubernur DIY meminta pembebasan lahan diselesaikan hingga

akhir tahun 2015" kata Triyono.

Ia mengatakan warga yang masih belum terima atas ganti rugi lahan,

mereka berhak mengajukan keberatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara

(PTUN).

"Harga tanah untuk pembangunan bandara merupakan harga wajar pasar.

Yakni masih dihitung kerugian fisik dan non-fisik, juga akan dinilai

oleh tim penilai independen," katanya.

Ketua Wahana Tri Tunggal Lilik Martono mengatakan masyarakat terdampak

bandara belum membuat keputusan akan mengajukan gugatan ke Pengadilan

Tata Usaha Negara (PTUN).

"Kami akan menemui Sultan dulu, baru membuat keputusan," katanya Martono.

/AF

Antara
Share:

Tim Gabungan Gelar Razia Tempat Karaoke

KULONPROGO ( KRjogja.com)- Tim Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi

DIY bekerjasama dengan Sat Pol PP DIY dan Kulonprogo, merazia sejumlah

tempat hiburan malam di Wates, Sabtu (04/04/2015) malam. Dalam razia

ini petugas memeriksa pengunjung maupun pengelola tempat hiburan

tersebut dan menemukan beberapa botol minuman keras (miras).

Tes urine yang dilakukan BNN hasilnya negatif. "Hasil pemeriksaan

sementara terhadap 69 LC, pengunjung, dan pengelola semua negatif,

tidak terindikasi menggunakan narkotika," kata Kepala BNN Provinsi

DIY, Kompol Siti Alfiah.

Kasatpol PP Kulonrogo Drs Duana Heru Supriyanto MM melalui Kasi Tibum

Tranmas, Sartono SSos memberikan apresiasi dan dukungan kepada BNN

dalam rangka kerjasama pencegahan penggunaan narkoba di Kulonprogo.

Dikatakan Sartono, dalam upaya pencegahan pemakaian narkoba di

Kulonprogo, pihaknya siap membantu dan bersinergi dengan BNN.

"Salah satunya yaitu penganggaran sosialisasi penyalahgunaan Narkoba

setiap tahunnya yang diadakan di sekolah, sebagai upaya preventif.

Selain itu membantu BNNP melakukan razia di tempat hiburan malam,"

katanya.(Wid)
Share:

Thursday, April 2, 2015

PENIPUAN KULONPROGO : Katanya Pinjam HP, Ternyata ...

Harianjogja.com, KULONPROGO-Seorang pelajar Abi Sigit Pratama, 13,

warga Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih menjadi korban kejahatan di

jalan samping GKJ Wates, Terbah, Wates, Selasa (31/3/2015) malam.

Ponsel Android Smartfren CI miliknya dibawa lari orang tak dikenal

yang berpura-pura meminjam ponselnya untuk menelepon teman.

Kejadian tersebut bermula saat korban yang mengayuh sepeda ontel

berhenti di samping GKJ Wates sekitar pukul 19.40 WIB. Ia memainkan

internet di ponsel miliknya. Tiba-tiba seorang laki-laki tak dikenal

yang mengendarai sepeda motor Honda Supra AA 4629 KP mendekatinya dan

menanyakan lokasi Jalan Terbah Wates 1.

"Karena tidak tahu saya jawab saja tidak tahu," ujar Abi dalam laporan

kepada polisi. Setelah itu, Abi pun beranjak pergi dan kembali

mengayuh sepedanya.

Namun, laki-laki yang menanyakan alamat itu justru membuntutinya

dengan sepeda motor dan memberhentikan korban. Ia meminta korban untuk

meminjamkan ponselnya dengan alasan hendak menelepon teman.

Tanpa curiga, korban meminjamkan ponselnya sembari mengikuti orang

tersebut dari belakang. Sembari berlagak menelepon teman, pelaku

menjalankan motornya perlahan dan kemudian melarikan diri. Akibat tak

mampu mengejar, korban kehilangan jejak pelaku dan melaporkan kejadian

ini ke Polsek Wates.

Kasubag Humas Polres Kulonprogo AKP Slamet membenarkan telah terjadi

tindak penipuan atau penggelapan yang menimpa seorang pelajar di jalan

samping GKJ Wates. "Kerugian dari kejadian ini sebesar Rp500.000,"

sebutnya.

Diungkapkannya, modus operandi yang digunakan pelaku adalah

berpura-pura meminjam ponsel. Kasus ini, kata dia, masih dalam

penyelidikan polisi
Share:

Grup Facebook Komentar Pedas, Satpol PP Kulonprogo Panggil Admin

Harianjogja.com, KULONPROGO-Gerah dengan komentar pedas dalam salah

satu postingan di Forum Binangun Kulonprogo (FBKP), Satpol PP

Kulonprogo memanggil pendiri dan admin grup facebook tersebut, Senin

(30/3).

Keempat orang tersebut dimintai klarifikasi atas dugaan pencemaran

nama baik instansi Satpol PP Kulonprogo. Beberapa hari lalu muncul

komentar-komentar bernada miring tentang Satpol PP Kulonprogo di salah

satu postingan grup tersebut.

Pendiri FBKP Koko Gregorius menuturkan sudah memberikan klarifikasi

terkait persoalan tersebut kepada Kepala Satpol PP Kulonprogo. Ia juga

sudah menghapus postingan yang dimaksud.

"Kami akan memantau grup dengan lebih cermat sehingga persoalan ini

tidak terulang lagi," ujarnya.

Diakuinya, komentar tersebut diunggah oleh tiga orang anggota grup dan

ia juga sudah menegur anggota yang bersangkutan karena telah melakukan

tindakan yang merugikan orang lain.

Dalam pertemuan tersebut, juga telah ditandatangani Berita Acara

Pemeriksaan (BAP) klarifikasi persoalan tersebut. Ia berharap masalah

ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan, mengingat kasus semacam ini

dapat masuk ke ranah pidana jika dilaporkan dengan berlandaskan UU

ITE.

Kepala Satpol PP Kulonprogo Duana Heru mengakui beberapa komentar

dalam salah satu postingan mengganggu. Ia memanggil pendiri dan admin

untuk diajak berdialog supaya lebih selektif dalam mengawasi kata-kata

atau pernyataan yang diunggah dalam grup itu.

Dijelaskannya, beberapa komentar yang mengganggu berkaitan dengan

kegiatan pemusnahan minuman keras beberapa waktu lalu. Kendati

demikian, Duana tidak menampik jika komentar tersebut muncul akibat

dari kasus laporan palsu begal salah satu anggota Satpol PP

Kulonprogo. "Maksud kami jangan digebyah uyah seperti itu sampai

menghina instansi," ungkapnya.

Kali ini, terangnya, pemanggilan masih bersifat pembinaan karena baru

pertama kali terjadi. Namun, tidak menutup kemungkinan akan diambil

tindakan berbeda jika terjadi pengulangan kasus. Selain memanggil

admin dan pendiri, sebut Duana, tiga anggota grup yang mengunggah

komentar miring juga dipanggil untuk diberi pembinaan.

Ia mengakui, keberadaan FBKP baik karena memiliki tujuan yang bersifat

sosial kemasyarakatan.

"Sebenarnya grup ini memiliki misi yang baik untuk memajukan

Kulonprogo dan kami berharap dapat terus bekerjasama dalam hal

positif," imbuhnya
Share:

Bupati Kulonprogo Bingung

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO -Surat pernyataan warga penggarap lahan

pesisir selatan asal Desa Bugel Kecamatan Panjatan bakal menjadi kunci

Bupati untuk memperjuangkan pemasangan listrik di area tersebut. Namun

sejauh ini warga menolak prasyarat yang diajukan tersebut.

Kondisi ini pun membuat Bupati Hasto Wardoyo kebingungan, bagaimana

melakukan bargainning ke perusahaan pasir besi PT Jogja Magasa Iron

(JMI). Bupati menegaskan, tanpa pernyataan warga itu, pihaknya mengaku

tidak memiliki kata kunci memperjuangkan realisasi pemasangan listrik

di area pertanian warga.

"Kalau ada pernyataan bahwa warga tidak menuntut apapun jika tiba

waktunya JMI menggunakan lahan itu, saya bisa mengusahakan ke JMI soal

listrik ini," ujar Bupati, Rabu (1/4/2015).

Soal permintaan adanya pernyataan tersebut memang disampaikan Bupati

saat warga petani Bugel menemuinya beberapa waktu lalu. Mereka datang

untuk mengonfirmasikan bahwa setelah mengajukan pemasangan listrik

sejak pertengahan 2014, PT PLN Semarang akhirnya memberikan izin.

Namun, Bupati saat itu justru meminta warga agar membuat

pernyataan.(*)
Share:

Gubernur DIY keluarkan PLP Bandara Kulon Progo

Kulon Progo (ANTARA News) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri

Sultan Hamengku Buwono X telah mengeluarkan surat penetapan lokasi

pembangunan bandara baru di Kabupaten Kulon Progo.

"Penetapan lokasi pembangunan (PLP) sudah turun, dan pembangunan

bandara ditetapkan dibangun di Kulon Progo. Penetapannya itu

tertanggal 31 Maret," kata Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo di Kulon

Progo, Rabu.

Hasto mengatakan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Nomor

593/3145, pembangunan bandara akan menggunakan lahan seluas 645,63

hektare di lima desa di Kecamatan Temon, yaitu Desa Glagah, Palihan,

Jangkaran, Sindutan, dan Kebonrejo.

Dia mengatakan PLP berlaku dua tahun sejak ditetapkan. Apabila belum

selesai nantinya bisa diperpanjang satu kali dalam jangka waktu satu

tahun.

"Lahan yang masuk dalam wilayah itu sudah tidak boleh dipakai untuk

transaksi jual beli. Sehingga BPN nantinya tidak bisa memproses adanya

transaksi jual beli atas tanah," kata Hasto.

Hasto sendiri mengaku sudah memberikan masukan kepada gubernur dalam

kapasitasnya sebagai anggota tim kajian keberatan maupun kepala

daerah. Salah satunya menyangkut adanya keberatan dari warga yang

tercantum dalam formulir saat konsultasi publik. Bahkan tim juga sudah

menemui warga, meski banyak yang enggan hadir.

"Keberatan dari warga sebenarnya sudah kami sampaikan. Sehingga bagi

warga yang belum bisa menerima, akan kami dekati begitu pula warga

yang mendukung," kata Hasto.

Sementara itu, Tim Community Development Pembangunan Bandara Ariyadi

Subagyo mengatakan dengan terbitnya PLP dari gubernur berarti

pembangunan bandara sudah semakin jelas.

Nantinya tahapan akan dilanjutkan untuk proses pembebasan lahan,

dimana akan ada tim appraisal independen yang turun untuk menentukan

kisaran harga dari tanah yang terdampak.

"PLP sudah ditandatangani gubernur pada 31 Maret. Pada hari ini, kami

umumkan secara serentak di papan-papan pengumuman desa, kecamatan dan

kabupaten. Besok, diumumkan melalui media koran lokal dan nasional.

Kami berharap, warga menerima PLP tersebut," kata Ariyadi.

Tahapan selanjutnya pengadaan tanah supaya segera dilaksanakan.

Terkait warga yang keberatan atas diterbitkannya PLP, kata Ariyadi,

masyarakat bisa menggugat ke Mahkamah Agung. "Namun gugatan tersebut

bersifat perorangan, bukan oleh kelompok," katanya.

Editor: Tasrief Tarmizi
Share:

Apes.. Lagi Ngamar di Glagah Terjaring Razia

KULONPROGO ( KRjogja.com)- Operasi penegakan Perda Nomor 4 Tahun 2013

tentang Ketertiban Umum yang digelar Satpol PP Kulonprogo pada dua

penginapan di wilayah Pantai Glagah, Selasa (31/3/2015) malam,

berhasil menjaring empat pasangan tak resmi, yang diantaranya pelajar.

Mereka beserta mobil dan motornya dibawa ke Kantor Satpol PP, para

pelaku diberikan pembinaan.

Delapan orang yang terjaring, tujuh dari luar Kulonprogo dan hanya

satu yang dari Kulonprogo. Tiga pasangan merupakan dewasa dan satu

pasangan di bawah umur. Alasan mereka bervariasi, mulai dari faktor

ekonomi, memang pacaran, hingga cinta lama bersemi lagi (CLBK)

Qomarul Hadi Kasi Penegakan Perda Satpol PP setempat menyatakan dari

hasil operasi penegakan Perda Ketertiban Umum di penginapan, selalu

ada pelaku masih di bawah umur. "Dari yang terjaring tiga pasangan

merupakan dewasa dan satu pasangan di bawah umur. Dalam operasi selalu

didapati yang masih berstatus pelajar. Kegiatan operasi ini akan

diintensifkan lagi," kata Qomarul ketika dikonfirmasi Rabu (1/4/2015)

malam.

Salah satu pelajar yang ikut terjaring razia, DP menyatakan sudah dua

kali melakukan hubungan intim dengan pacarnya. "Pertama di

Parangtritis, yang kedua di Glagah," katanya sembari menambahkan bahwa

hubungan dilakukan atas dasar suka sama suka.

PPNS Satpol PP Kulonprogo, Rokhgiarto mengungkapkan, pasangan yang

tertangkap di kamar penginapan dibawa ke Kantor Satpol PP untuk

dimintai keterangan lebih lanjut. "Para pelaku mengaku menyesal dan

minta kejadian tersebut tidak diberitahu orang tua maupun istrinya,"

katanya.(Wid)
Share:

Saturday, March 28, 2015

Puting Beliung Terjang Srikayangan

Harianjogja.com, KULONPROGO - Puting beliung porak-porandakan pohon dan

rumah warga di Dusun Kradenan dan Dusun Gunung Puyuh di Desa Srikayangan,

Sentolo, Rabu (25/3/2015). Tiga warga mengalami luka serius akibat tertimpa

atap rumah.



Dari pantauan Harianjogja.com di lokasi kejadian, Dusun Kradenan mengalamk

kerusakan cukup parah. Tiga rumah yang berada di dusun tersebut rusak parah

tersapu angin dan tertimpa sebuah pohon besar setinggi lebih dari 15 meter.

Dua rumah masing-masing milik Mardi Wiyono, 70, dan Tukiyo, 58, hancur dan

hampir rata. Bahkan, dua anggota keluarga Mardi menjadi korban akibat

bencana tersebut.



"Istri saya dan cucu saya sedang di ruang tengah. Saya sendiri di dapur

sedang menyalakan api untuk memasak air. Tiba-tiba saja rumah sudah ambruk,

lalu saya segera matikan api biar tidak membakar kayu kering di sekitarnya,"

ujar Mardi, Kamis (26/3/2015).



Menurut Kasidi, 63, tetangga korban, angin puting beliung muncul pertama

kali dari arah barat daya rumahnya.

Sekitar pukul 15.30 WIB, usai melaksanakan shalat ashar, Kasidi melihat awan

gelap di samping rumah. Saat itu hujan deras disertai angin kencang,

kemudian dari awan gelap itu muncul angin puting beliung memutar dan makin

membesar langsung menghantam pohon besar yg ada di lokasi itu.



"Anginnya lalu bergerak ke timur ke arah rumah Pak Mardi. Saya langsung lari

ke sana. Saya lihat, istri sama cucu Pak Mardi sudah dalam posisi terlentang

dan tertimpa reruntuhan," ungkap Kasidi.



Kasidi menuturkan, Mukiyem, 60, istri Mardi mengalami patah tulang pada

bagian lengan atas. Sedangkan cucu Mardi, Aprilia, 6, mengalami tulang retak

di bagian punggung. Seketika itu juga korban langsung dibawa ke RSUD Wates

untuk mendapat pertolongan.



Warga, relawan dan petugas gabungan membantu membersihkan puing-puing rumah

warga yang roboh setelah tertimpa pohon tumbang di Dusun Kradenan Desa

Srikayangan, Sentolo, Kamis (26/3/2015).



Editor: Mediani Dyah Natalia <http://jogja.solopos.com/baca/author/mediani>
Share:

Wednesday, March 25, 2015

WTT Siap Bertemu Tim Kajian Keberatan

TEMON ( KRJogja.com)- Tim Kajian Keberatan Bandara Baru DIY di Temon

terdiri dari Sekda DIY Drs Ichsanuri, Bupati Kulonprogo dr Hasto

Wardoyo, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) DIY Tavip Agus

Rayanto, Kepala Kanwil Badan Pertanahan Nasional (BPN) DIY dan Kepala

Kanwil Hukum HAM DIY serta akademisi akan menemui 330-an warga pesisir

selatan Kecematan Temon yang hingga kini belum sepakat terhadap

rencana pembangunan bandara internasional di wilayah mereka.

Sementara warga kontra bandara tergabung dalam Wahana Tri Tunggal

(WTT) menyatakan siap menghadiri pertemuan khususnya di Balai Desa

Glagah Kecamatan Temon, Kamis (26/3).

Humas Proyek Pembangunan Bandara PT Angkasa Pura (AP) I Ariyadi

Subagyo menjelaskan pertemuan akan berlangsung di tiga lokasi

masing-masing Balai Desa Glagah dan Palihan serta di Joglo Kantor

Kecamatan Temon.

Dalam pertemuan tersebut Tim Kajian Keberatan Bandara akan

mengklarifikasi langsung perihal alasan warga keberatan terhadap

rencana pembangunan bandara di wilayah pesisir selatan Kecamatan Temon

Kulonprogo.

Secara teknis ungkap Ariyadi, tim kajian keberatan mempresentasikan

hasil rekap alasan keberatan warga kemudian dilanjutkan dengan

klarifikasi dalam bentuk dialog terbuka dengan tujuan mendalami alasan

warga suapaya tidak muncul salah persepsi dan salah rekomendasi.

"Hasil klarifikasi akan dijadikan bahan dalam menyusun rekomendasi

yang disampaikan kepada Gubenur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X

sebagai dasar diterbitkan atau tidaknya Izin Penetapan Lokasi (IPL)

bandara baru di Temon," tegasnya.

Secara terpisah Kepala Desa (Kades) Glagah Agus Parmono menjelaskan

sebagian besar warga yang belum sepakat dengan rencana pembangunan

bandara di Temon memang berasal dari wilayahnya. Adapun pertemuan tim

kajian keberatan dengan warga tidak terpusat di satu tempat melainkan

dibagi tiga lokasi yakni Balai Desa Glagah dan Balai Desa Palihan

serta Kantor Kecamatan Temon. Dijelaskan, hasil perhitungan tercatat

sekitar 50-an warga Glagah batal terdampak pembangunan bandara karena

lokasi digeser. "Batas di Pedukuhan Macanan, Bebekan dan Kretak

digeser ke selatan atau Jalan Diponegoro untuk meminimalkan jumlah

warga terdampak," ujarnya.

Begitu pula tempat atau objek wisata yang berada di sisi selatan tidak

terdampak pembangunan bandara. "Tapi kalau sisi utara yang saat ini

banyak berdiri penginapan dan karaoke semuanya kena tapi perlu diingat

lahan tersebut milik Paku Alaman atau Pakualaman Ground," tegasnya.

Ketua WTT Martono mengatakan, tujuan kedatangan warga menemui Tim

Kajian Keberatan Bandara selain untuk mendengarkan sekaligus juga

menjelaskan bahwa WTT tetap menolak pembangunan bandara di Kecamatan

Temon. "Kami memang memilih datang ke Balai Desa Glagah dan mungkin

sekitar 100-an orang yang akan hadir," tuturnya menambahkan kendatipun

bersedia datang bertemu tim kajian keberatan yang dibentuk Gubenur DIY

tapi pihaknya tetap konsisten memperjuangkan lahan produktif milik

mereka agar tidak dibangun bandara.(Rul)
Share:

Archive

Breaking News

Wikipedia

Search results