Tourist knows Yogyakarta Indonesia

Top reviews

Saturday, July 4, 2015

Agen di Nanggulan Diduga Menyelewengkan Pupuk Bersubsidi

Bisnis.com, KULONPROGO-Satreskrim Polres Kulonprogo sedang menangani

kasus dugaan penyelewengan pupuk bersubsidi oleh salah satu agen di

sekitar wilayah Kembang, Nanggulan, Kulonprogo. Polisi masih memeriksa

sejumlah saksi untuk dimintai keterangan dan belum menetapkan

tersangka.

Kanit I Reskrim Polres Kulonprogo, Ipda Hadi Purwanto mengungkapkan,

dugaan kasus penyelewengan bermula dari informasi masyarakat yang

mengenai penyaluran pupuk bersubsidi yang seharusnya hanya bisa

didapatkan kelompok tani setelah menyusun rencana definitif kebutuhan

kelompok (RDKK). "Ada agen yang menjual pupuk secara eceran dan tanpa

RDKK," katanya kepada wartawan, Jumat (3/7/2015).

Saat petugas mendatangi agen itu pada Selasa (30/6/2015) lalu,

ditemukan dua karung pupuk jenis urea dan SP36 yang sebagian sudah

dijual eceran. Sisa penjualan sebanyak 7,5 kilogram (kg) urea dan 42

kg SP36 kemudian disita petugas. "Baru dua karung itu yang dibuka,"

ujar Hadi.

Hadi menguraikan, agen mengaku belum lama melayani penjualan pupuk

bersubsidi secara eceran. Saat itu, pupuk belum bisa disalurkan kepada

kelompok tani karena masih menunggu proses klarifikasi RDKK. "Tanggal

30 Juni itu ada petani yang beli beberapa kilogram saja dan dilayani,"

paparnya.

Polisi masih terus melakukan penyidikan lebih lanjut untuk memastikan

apakah temuan di Nanggulan itu memang merupakan kasus penyelewengan

pupuk bersubsidi. Jika terbukti tidak menyalurkan pupuk secara tepat

sasaran, pelaku bisa dijerat pasal 60F UU No.12/1992 tentang sistem

budidaya tanaman. Ancaman hukumannya adalah kurungan maksimal lima

tahun.

"Kami juga bekerja sama dengan Pemkab Kulonprogo untuk pengecekan

daftar agen resmi dan kelompok tani di Kulonprogo," ujar Hadi

kemudian.



Editor : Nina Atmasari
Share:

KASUS NARKOBA KULONPROGO : Beli Obat di Apotek Lalu Jual Lagi, Seorang Pemuda Ditangkap

Harianjogja.com, KULONPROGO– Tiga pemuda ditangkap lantaran memakai

dan mengedarkan narkoba jenis psikotropika. Jajaran Satres Narkoba

Polres Kulonprogo berhasil menemukan 19 butir narkoba dari tangan

pelaku.



Ketiga pelaku, yakni SS, WW dan DH terancam hukuman hingga lima tahun

penjara. Dari tangan tersangka, diamankan 19 butir narkoba yang

terdiri dari tiga butir calmet yang diambil dari tangan WW, enam butir

camlet milik SS dan tujuh butir calmet serta tiga butir etizolam milik

DH.



Kabag Ops Polres Kulonprogo Kompol Dwi Prasetio mengatakan, ketiga

pelaku dijerat dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang

psikotropika. Dia mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan, pelaku SS dan

DH diduga mengedarkan narkoba tersebut.



"Ketiganya ini saling mengenal. Nantinya tersangka WW akan dikenai

pasal 62 karena memiliki, membawa dan menyimpan psikotropika.

Sedangkan SS dan DH akan dikenai pasal 62 atau 60 ayat 2 karena

berperan mengedarkan atau menyalurkan narkoba," ujar Dwi, Kamis

(2/7/2015).



Sementara itu, Kasat Res Narkoba Polres Kulonprogo AKP R Agus Nursewan

mengatakan, penangkapan ketiga tersangka tersebut bermula dari adanya

informasi dari masyarakat terkait adanya penyalahgunaan narkoba.



Petugas kemudian melakukan penyelidikan dan berhasil meringkus WW pada

Selasa (16/6/2015) lalu di sekitar Jalan Trisik-Bugel. Berdasarkan

pengembangan dari pelaku pertama, petugas berhasil meringkus SS dan DH

di hari yang sama pada Rabu (17/6/2015) di wilayah Karangsewu, Galur

dan Bojong, Panjatan.



"Memang ada resep dokter, tapi kalau digunakan sendiri itu tidak

masalah. Tapi kalau diedarkan, bahkan diperjual belikan maka itu

melanggar hukum," jelas Agus.



Dua pelaku, yakni SS menjual psikotropika itu kepada WW dengan harga

Rp45.000 per tiga butirnya. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, SS

mengaku mengalami ketergantungan terhadap obat tersebut. Berdasarkan

pengakuannya, obat tersebut didapatkan dari salah satu apotik di

Jogja, setelah diberikan dokter.



"Keluhannya pusing, lalu saya diberi resep oleh dokter. Teman saya

[DH] minta, lalu saya jual lagi," ujar SS.
Share:

Menanti Menoreh Kuning di Kulon Progo

Sentra Pemberdayaan Tani (SPT) merupakan program desa binaan CSR

Pertamina, yang telah sukses membina dan mendampingi masyarakat Desa

Wonokerto, Semarang, Jawa Tengah dalam mengembangkan agrowisata buah

naga. Kali ini, SPT Pertamina menyasar masyarakat Desa Banjaroya,

Kabupaten Kulon Progo, DIY, yang masih berada di sekitar wilayah

operasi Terminal BBM Rewulu.



Desa Banjaroya dan sekitarnya merupakan daerah perbukitan yang kering.

Kondisi pertaniannya juga masih tertinggal. Sebagian besar kondisi

tanah di desa tersebut kurang produktif, yang hal Ini berdampak pada

tingkat sosial ekonomi warganya yang masih rendah. Bekerja sama dengan

Yayasan Obor Tani, sejak 2013, Pertamina menjalankan aktivitas

pemberdayaan masyarakat Desa Banjaroya dengan memanfaatkan lahan

kurang produktif.

-

Potensi durian

Dengan bantuan modal bibit pohon, pupuk pelatihan, dan pembinaan,

lahan tersebut saat ini telah ditanami pohon durian menoreh kuning.

Keunggulan durian menoreh kuning antara lain daging buahnya berwarna

kuning kemerahan dan rasanya lebih manis. Keunggulan ini membuat

durian menoreh kuning bisa memiliki harga pasaran lebih tinggi

dibandingkan durian montong.



Bibit pohon durian menoreh kuning ditanam di lahan-lahan milik warga

dan tanahbengkokyang dipinjamkan pemerintah desa untuk dimanfaatkan

warga. Total luas lahan adalah sekitar 20 hektare dengan 3.000 pohon.

Sejak penanaman bibit pohon tahun 2013, diharapkan hasil dapat dipanen

pada tahun 2016.



Harga durian menoreh kuning per kilogram di pasaran adalah Rp

35.000–Rp 45.000. Setiap petani rata-rata memiliki 15–20 pohon.

Apabila setiap pohon sedikitnya menghasilkan 3 durian, petani akan

memetik hasil sekitar Rp 1.575.000 saat panen. Di samping itu, para

petani juga berinisiatif menanam tanaman sela yang dapat memberikan

pemasukan tambahan.



Program SPT ini memberikan berbagai manfaat. Dalam segi ekonomi,

rezeki akan dirasakan oleh petani dan warga dari hasil panen durian

dan agrowisata. Di segi lingkungan, dengan pemanfaatan lahan kurang

produktif untuk perkebunan durian, cadangan air dalam tanah dan daya

serap karbondioksida akan meningkat. Sementara itu, dari segi edukasi,

para petani mendapatkan pengayaan pengetahuan mengenai teknologi

budidaya pertanian.



"Tadinya saya bertani ya secara tradisional saja. Saya bersyukur

mendapatkan pelatihan ini, jadi tahu cara bertani yang lebih modern,"

ungkap Soleh, salah satu petani SPT.



Keberhasilan program

Pertamina tidak hanya memberikan pelatihan, bibit pohon, pupuk, biaya

pemeliharaan selama 3,5 tahun, dan biaya pengendalian hama penyakit.

Pertamina juga memberikan bantuan pembangunan waduk mini seluas 1

hektare, wisma tani, dan fasilitas pelengkap di argowisata kebun

durian, seperti patung durian,jogging track, dan sejumlah gazebo.

Kini, Desa Banjaroya telah ramai dikunjungi sebagai salah satu

destinasi wisata di Kulon Progo.



"Melalui program SPT Pertamina, kami berharap dapat memberikan nilai

tambah bagi masyarakat dengan memanfaatkan lahan tidak produktif

menjadi sumber penghasilan, baik dari hasil panennya maupun

agrowisata," tutur CSR Manager Pertamina Agus Mashud.



"Tahun depan, kami berharap pohon-pohon durian itu mulai berbuah dan

agrowisata akan semakin ramai dikunjungi wisatawan. Pertamina bangga

menjadi bagian dari upaya terbangunnya kemandirian ekonomi masyarakat.

Semua kesuksesan ini tentunya tidak terlepas dari kemauan masyarakat

Desa Banjaroya untuk maju, dukungan pemerintah daerah, serta kerja

sama Yayasan Obor Tani," tambah Agus.



Pertamina telah memiliki sedikitnya 120 desa binaan di seluruh

Indonesia. Program desa binaan masuk dalam dalam kelompok Pertamina

Berdikari. Dalam setiap program desa binaan, Pertamina melakukan

pendampingan selama 2–3 tahun. Program ini terbukti telah memberikan

manfaat besar dan menciptakan efek domino perekonomian masyarakat,

serta sangat diapresiasi oleh pemerintah daerah. (Adv)



Penulis:advertorial

Editor: advertorial, kompas
Share:

Friday, July 3, 2015

Kawanan Pencuri Nekat Beraksi di Pasar Gawok Kulonprogo

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO -Sekawanan pencuri beraksi menyasar

pedagang kelapa di Pasar Gawok selatan Terminal Wates Kulonprogo,

Kamis (2/7/2015) siang. Tas berisi uang tunai kira-kira Rp 17 juta

milik pedagang kelapa, Sastro Utomo (80), pun raib dibawa kabur para

pelaku.

Suasana pasar kelapa yang penuh para pedagang nampaknya tidak

mengurangi nyali para pelaku. Berdasarkan informasi dihimpun di

lokasi, pelaku yang diperkirakan lebih dari tiga orang berpura-pura

sebagai pembeli. Dua orang bertanya-tanya soal harga, pelaku lainnya

beraksi dari belakang menyambar tas di atas kursi panjang lalu kabur.

Korban yang merupakan pedagang kelapa di pasar itu, Sastro Utomo,

mengatakan siang itu kedatangan sekitar dua orang ke gubuk dagangan

kelapanya. Seorang di depan mengenakan topi dan jaket hitam

mendekatinya dan bertanya soal harga kelapa.

"Dia membawa plastik berisi pakan ayam. Tadinya tanya-tanya, tapi

setelah direspon malah menengok ke sana-sini," ujar Mbah Sastro,

ditemui usai kejadian.

Sementara seorang lainnya di luar lapak dagangan. Orang itu sekilas

terlihat mengawasi. Tak disangka, ketika Mbah Sastro sedang menanggapi

dua orang tersebut, seorang lainnya muncul dari arah belakangnya, dari

balik dinding terpal lapak yang penuh lubang karena robek.

"Tiba-tiba tangannya sudah masuk lubang terpal,nyelonongmengambil tas

saya di atas kursi panjang dekat tumpukan kelapa lalu kabur ke

selatan. Isinya Rp 17 juta mau saya pakai

kulakan,"katanya.(*)
Share:

Empat Tokoh WTT Akhirnya Hirup Udara Bebas

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL -Genap empat bulan menjalani pidana

penjara di LP Wates, empat tokoh Wahana Tri Tunggal (WTT), Sarijo cs,

akhirnya menghirup udara bebas, Jumat (3/7/2015).

Menyambut hari bebas itu, ratusan warga WTT melakukan penjemputan

sejak pagi. Sambutan warga WTT tidak hanya berupa arak-arakan

bersepeda motor. Usai keluar dari penjara, empat tokoh tersebut

bersama warga WTT beriringan menuju Pantai Glagah.

Mereka melakukan larungan pakaian dan sandal serta berbagai barang

yang semula dikenakan selama berada di penjara. Hal itu dimaksudkan

sebagai simbol membuang sial.

Seorang dari empat tokoh WTT, Wasiyo, mengaku senang bisa bebas. Dia

bahkan meluapkan kegembiraannya atas sambutan warga WTT.

"Kami senang bisa kembali berkumpul dan antusias tetap menolak

bandara," ujar Wasiyo.

Selengkapnya simak di halaman 6 Tribun Jogja edisi Sabtu (4/7/2015). (*)
Share:

Bekas Aliran Sungai Ditambang, Warga Resah

GALUR ( KRjogja.com) - Warga mengeluhkan aktifitas penambangan pasir

dengan cara manual dan mesin tiup (disebul) yang dilakukan sekelompok

orang di bekas aliran Sungai Progo atau di lahan wedi kengser di

wilayah Desa Banaran Kecamatan Galur. Warga khawatir aliran sungai

berubah ketika terjadi banjir, akibat adanya penambangan.



"Warga khawatir kalau terjadi banjir aliran sungai kembali ke arah

barat," kata Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Jatimulyo, Sukardi,

Kamis (2/7/2015).



Dijelaskan, sebelum gunung Merapi erupsi 2010, aliran Sungai Progo di

kawasan tersebut berada di sisi barat dan banyak menggerus lahan

pertanian warga. Tapi dengan terjadinya erupsi Merapi membuat material

pasir menumpuk dan membuat kawasan itu menjadi daratan, sementara

aliran air berubah arah dan berada di tengah sungai bahkan muncul

laguna di tengah.



Seiring langkanya pasir di pasaran menyusul gencarnya aparat keamanan

baik dari unsur Kepolisian maupun Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol

PP). Kini banyak penambangan manual beraktifitas di lahan bekas aliran

sungai yang berubah jadi daratan. Lokasi penambangan tersebut berada

dekat dengan bangunan penahan arus sungai (grouncill) dengan kedalaman

di atas satu meter.



"Kami membentuk KUBE Jatimulyo untuk mewadahi warga yang melakukan

penambangan manual dan mesin sedot. Tapi lokasinya di aliran Sungai

Progo dan di sekitar laguna, sehingga lebih aman dan membuat airan

sungai lebih stabil disisi tengah," terangnya.



Berkaitan adanya aktifitas penambangan dengan cara disebul di luar

aliran sungai, warga berharap pemerintah turun tangan

mensosialisasikan, kawasan itu harus dikembangkan menjadi kawasan

pertanian. Bahkan jika perlu pemerintah membantu warga melakukan

penanaman tanaman keras agar aliran sungai tidak berbelok arah karena

membahayakan pemukiman warga. (Rul)
Share:

Masih Utang Klaim, Dana Jamkesda 2015 Makin Menipis

KULONPROGO ( KRjogja.com)- Klaim jaminan kesehatan daerah (Jamkesda)

Kabupaten Kulonprogo makin tahun makin banyak. Tahun 2015 ini dana

Jamkesda sebesar Rp 9 Miliar, hingga Juni telah terpakai Rp 5,5 M.

Namun jumlah itu belum termasuk utang klaim pada RSUD Wates yang baru

sampai April, RSUP Sardjito dan Puskesmas hingga Maret. Sehingga

diprediksikan dana tersebut akan habis klaim semua rumah sakit hingga

Juni.



Dijelaskan Kepala UPTD Jaminan Kesehatan (Jamkes) pada Dinas Kesehatan

Kulonprogo Paryanto SKM, dana Jamkesda selalu habis terpakai dan

bahkan harus ada anggaran belanja tambahan (ABT) untuk mencukupi semua

klaim-klaimnya. Seperti dana tahun 2014 semula Rp 8 M dan ditambah

lagi Rp 7,6 M. Tapi itu tidak cukup karena masih utang RSUD Wates

hingga Rp 2,6 M. Bahkan ada informasi untuk 2016 dana yang disediakan

malah turun, hanya Rp 5,7 M. Padahal tahun 2016 peraturannya akan

berbeda lagi. "Kalau tidak dipilah-pilah kita bisa kerepotan,"

ujarnya, Jumat (3/7/2015).



Menurutnya, dalam penanganan Jamkesda seharusnya tidak total coverage

atau berlaku bagi semua masyarakat yang ber-KTP Kulonprogo, namun

harus ada pemilahan kaya dan miskin. Sehingga dalam pemberian bantuan

tidak sama antara yang kaya dan miskin.



"Kalau bicara total coverage jangan dengan uang di bawah Rp 15 M,

karena tidak cukup. Jamkesda tidak sama dengan penyerapan anggaran,

karena orang sakit tidak bisa dipresdiksi. Bila ingin lebih bijak

tidak total coverage, tapi dipilah-pilah, sehingga yang kaya misalnya

hanya diberi klaim di bawah 50 persen, selebihnya bayar sendiri,"

katanya.



Sebab, lanjut Paryanto, saat ini tren-nya, warga yang sudah pindah

penduduk ke daerah lain, karena Kulonprogo memberlakukan total

coverage maka ketika sakit memilih dirawat di Kulonprogo dan akhirnya

bisa mengakses Jamkesda. Seharusnya ketika masuk rumah sakit semua

persyaratan sudah lengkap, namun ada yang mengurus perpindahan

penduduk baru ketika sudah masuk rumah sakit.(Wid)
Share:

Susu Kemasan Sudah Berbelatung Masih di Jual di Kulonprogo

TRIBUNNEWS.COM, KULONPROGO -Razia gabungan Pemkab Kulonprogodi

sejumlah pasar tradisional, Jumat (3/7/2015), kembali menemukan produk

makanan kemasan kadaluarsa dan ikan berformalin.



Saat akan melakukan penyitaan, petugas bahkan menemukan susukotak

bermerk mengeluarkan belatungdari lubang segel yang telah rusak.



Razia tersebut merupakan gabungan dari Satpol PP, Diskepenak,

Disperindag, Dinas Kesehatan, dan Polres Kulonprogo.



Mulai setelah subuh, tim gabungan bergerak menyisir sejumlah pasar

tradisional di sisi barat.

Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Satpol PP Kulonprogo, Kuncahyo,

mengatakan tim kali pertama mendatangi pasar di Kecamatan Temon.



Saat pemeriksaan, petugas menemukan produk susukotak bermerk yang

telah kadaluarsa dan rusak bagian segelnya.



Saat petugas mengambil hendak menyitanya, ternyata susukotak tersebut

mengeluarkan ulat atau belatung.



Nampaknya susukemasan itu sudah cukup lama sehingga menjadi tempat

hidup binatang kecil tersebut.



Kuncahyo mengatakan temuan kali ini cukup banyak. Makanan dan minuman

kemasan ternyata banyak yang telah kadaluarsa.

Petugas langsung menyitanya agar tidak dijual kepada konsumen.

"Makanan dan minuman seperti susuyang kadaluarsa kami sita," katanya.

Menurutnya, pedagang yang bersangkutan langsung mendapat pembinaan.

Intinya, agar mereka tidak mengulangi menjual makanan yang kadaluarsa.

Namun jika di kemudian hari mereka kedapatan mengulangi perbuatannya,

penyidik akan menindaknya melalui proses persidangan.



Selain produk makanan dan minuman kemasan kadaluarsa, petugas juga

menemukan ikan berformalin.



Seperti halnya produk kemasan yang kadaluarsa, ikan positif formalin

juga langsung disita agar tidak dijual lagi. (*)
Share:

Thursday, July 2, 2015

PPDB Reguler Tetap Dipadati Pendaftar

KULONPROGO ( KRjogja.com)- Hari pertama penerimaan peserta didik baru

(PPDB) reguler di Kabupaten Kulonprogo, Rabu (01/07/2015),tetap

dipadati pendaftar. Di SMA N I Lendah hingga pukul 13.00 WIB jumlah

formulir yang keluar sebanyak 152 lembar, sementara yang sudah

mengembalikan atau memasukkan formulir ada 108. Sedangkan di Madrasah

Aliyah Negeri (MAN) Wates I formulir keluar 150 dan masuk 85.

Menurut Wakasek Humas SMA N I Lendah Paijan SPd, daya tampung 192

siswa atau enam kelas, terdiri 160 siswa dengan lima kelas reguler dan

32 siswa atau satu kelas khusus olahraga (KKO). Untuk pendaftar

reguler, nilai ujian nasional (UN) yang masuk sementara ini tertinggi

351,0 dan terendah 149,5.

"Sedangkan untuk kelas khusus olahraga (KK0) karena pendaftarannya

sudah mendahului yang reguler, maka 1 Juli tersebut digunakan untuk

daftar ulang. Kemarin jumlah pendaftar KKO sejumlah 37 siswa dan yang

diterima 1 kelas sebanyak 32 siswa," kata Paijan.

Di MAN Wates I, menurut Humas Madrasah tersebut Anhar, akan menampung

192 siswa atau 6 kelas, dengan tiga jurusan IPA, IPS dan Agama. Meski

hari pertama PPDB sudah ramai, namun biasanya pada hari terakhir PPDB

akan terjadi lonjakan pendaftar. "Formulir yang keluar sampai pukul

13.00 WIB juga sudah lumayan banyak yaitu 150 lembar, dan yang sudah

mendaftar ada 85," ujar Anhar.(Wid)
Share:

Monday, June 29, 2015

Mancing Bersama di Polres Kulonprogo

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO -Acara mancing bersama di kompleks

Mapolres Kulonprogo, Sabtu (27/6/2015), berlangsung cukup meraiah.

Setidaknya 300 peserta dari berbagai daerah datang menjadi peserta

mancing bersama yang digelar dalam peringatan HUT ke 69 Bhayangkara

tersebut.

Panitia dari Polres Kulonprogobahkan menebar sekitar 200 kilogram ikan

pada kolam yang disediakan untuk mancing bersama. Selain ikan lele

yang ditebar, di kolam itu juga telah ada ikan hasil budidaya Polres

Kulonprogosejak lama.

Suasana acara pun terasa begitu meriah. Para peserta berlomba

mendapatkan ikan dengan antusiasme tinggi meski Sabtu siang itu terasa

terik.

Mengusung misi agar terjaga kemitraan antara masyarakat dan Polri,

silaturahmi yang terjalin di lokasi pun tampak gayeng.

Seorang peserta dari Kokap, Susanto, mengatakan acara tersebut tepat

untuk mengisi waktu sembari menunggu waktu berbuka puasa. Selain itu,

dia juga cukup tertarik untuk mendapatkan hadiah berupa perangkat

elektronik dari panitia. "Yang jelas sangat menghibur. Kalau

berkelanjutan acara seperti ini malah bagus bisa akrab masyarakat dan

Polri," ungkapnya.

Dia sebagai masyarakat menyatakan siap untuk kerjasama dengan

kepolisian dalam menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan.

Jika memiliki informasi terkait tindak kejahatan, Susanto mengaku

bersedia untuk menginformasikannya kepada polisi.

Kapolres Kulonprogo, AKBP Yulianto, mengaku sengaja memilih acara

mancing bersama karena di Kulonprogoternyata banyak yang hobi mancing.

Melalui kegiatan itu, harapannya dapat mengakomodasi ketertarikan

masyarakat. "Kebetulan Polres punya kolam sendiri untuk dimanfaatkan,"

kata Kapolres.

Tidak hanya keasyikan mancing bersama, pada moment tersebut panitia

juga menyediakan hadiah menarik. Meski demikian, panitia tidak

memungut biaya bagi peserta yang mendaftar mancing bersama.

"Luar biasa antusiasmenya. Mereka bisa sekaligus ngabuburit dan

menunggu waktu buka," katanya. Menjelang sore usai gelar mancing

bersama, panitia juga membuka acara menangkap ikan bersama di salah

satu kolam di Polres. Mereka turun langsung ke dalam kolam dan

ramai-ramai menangkap ikan.

Kegiatan itu diharapkan dapat meningkatkan kerjasama antara masyarakat

dan Polri dalam memberantas kejahatan, menjaga keamanan wilayah

Kulonprogo.

"Ketika masyarakat menaruh kepercayaan kepada Polri, informasi apapun

akan masuk. Kami harap melalui kegiatan dapat ini menjalin hubungan

baik," ujarnya.( Tribunjogja.com)
Share:

Archive

Breaking News

Wikipedia

Search results