Tourist knows Yogyakarta Indonesia

Top reviews

Thursday, October 1, 2015

Spicy food like? Try sensation Super Spicy Satay Lightning Mr. Nano

 

Yogyakarta During this time known as the area with the flavors of the cuisine tends to sweet. However, there are some places in Yogyakarta restaurants serving cuisine with a spicy flavor to super spicy.

One of the places that serve food super spicy in Yogyakarta and worth your try is Sate Lightning Mr. Nano.

Simple food stalls are located in the South Ring Road Yogyakarta, precisely located in the hamlet Menayu, Village Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul presents satay with extra spicy flavor.

Sate Nano

Sate goats in the shop is actually almost the same with most satay in general. Mutton baked in the embers of the fire and then served with soy sauce.

But what distinguishes the most was sliced ​​chili satay rawitnya very much, so it was great to be so spicy.

 

In addition to pepper slices, soy disambal there is also a sliced ​​red onion, tomatoes, and cabbage.

There are other additional rare disambal satay sauce in a dish somewhere else, namely slices of orange leaves. Mutton taste tender, combined with the sweetness of soy sauce, and spicy chili. The taste even fresher with slices of orange leaves.

It said Mr. Nano (68), he started a business satay stall since 1984. Originally named the man of the original Suitiyarno Patangpuluhan open stalls in the area of ​​Yogyakarta, and in 2004 moved to the place he now occupy.

Sate Nano

Mr. Nano's ability to process goat meat he got from his grandfather and father.

"In the past Simbah and my father is also selling satay. Even before jualanya still stained by striking and around," said Mr. Nano.

Besides satay, food stall, visitors can order some other goat processed meat, such as tongseng, curry, satay klatak, and fried rice. The diverse preparations also served with a spicy flavor.

 

 

Tongseng is that too many menu ordered by the buyer. In addition to the spicy flavors dominate, the spices are also very pronounced.

Tongseng Mr. Nano cooked with curry sauce supplemented with chopped onion, chili, pepper, sliced ​​tomatoes, cabbage, and soy sauce.

Tongseng sauce is quite thick, savory taste due to the use of a blend of coconut milk, sweet and spicy course.

tongseng

Besides tongseng mutton, buyers can also order tongseng goat's head, kikil, viscera and brain are also goats. 

Although offering food super spicy sensation, in fact visitors can order the level of spiciness.

Naming the spiciness level was fairly unique, ranging from early childhood level (After Early Childhood Education), Play Group, up to the level of professor.  "Here there is ever a portion tongseng message and cabainya number reached 50 units. In the past also Dedy Corbuzier eat here, order some food and spend a basket of chili," said Mr. Nano.

Dedy Corbuzier addition, some celebrities also never eat at the diner Sate Lightning Mr. Nano, including Bondan Winarno.

Sate Nano

When asked if the quality of its cuisine spicy will drop when prices soar chili, Mr. Nani assured it will not happen.

"It has become my risk as a seller chili spicy food when prices skyrocketed," he said.

Lightning associated with the name carried by satay stalls, it is because of the sate which he presented a very spicy give tongue sensation like being struck by lightning.

"For the name of lightning, the granting of customers," added Mr. Nano. Every day the diner is open from 12.00 hours and usually around 18:00 merchandise is up.

Sate Nano

For one serving of satay and tongseng mutton price Rp20 thousand. As for the goat's head tongseng cost from Rp30 thousand per serving.

For those of you who claim to spicy food, mandatory food stalls visited this one. 

 

 

(*http://jogja.tribunnews.com/2015/09/18/suka-makanan-pedas-cobalah-sensasi-super-pedas-sate-petir-pak-nano?page=5)

 

Share:

Simple recipe Olah Meat Goat So Sate klathak





TRIBUNJOGA.COM - Today might be a family you've got beef of Sacrifice Eid al committee on Thursday (09/24/2015).
Furthermore, the meat will be what you get it?
Sate, tongseng, curry? If you choose to make satay and want a different sensation than usual, it could be considered to treat you so satay klathak.
What is the satay klathak? Perhaps you are used to eating chicken satay, satay, beef satay, duck satay, to sate rabbits.
Generally these types of satay-marinated satay peanut or soy sauce.
But satay typical Imogiri this one, and perhaps the only kind of satay that sensation to the tongue bully.
Sate klathak. That his name was popularized. The basic ingredients mutton satay. But unlike satay general.


 Culinary it only sprinkled a little salt and pepper. Meat chosen from a young goat meat, so the level of tenderness guaranteed.
Ways of manufacture, young goat meat is cut rather large, then sprinkled with salt, knead so saltiness evenly, then stabbed-stick one by one piece of meat to the spokes of a bicycle.
Sate and then burned in a fire charcoals. Once cooked, directly served alongside fresh curry sauce.
For fans of spicy, could digado with pieces of red pepper. Taste really fantastic ... really natural taste of mutton.
There is a combination of savory taste, smell typical of mutton / lamb, as well as the distinctive smell of charcoal foam.
The culinary offerings can easily be found along Jalan Imogiri, from the intersection Giwangan to toe Pajimatan Imogiri, day or night. (*)
Share:

Tuesday, September 29, 2015

Dubes Korea Penasaran Dengan Gula Semut Kulonprogo

Jakarta, HanTer - Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Taiyoung Cho mengatakan setelah merasakan nikmatnya gula semut, dia penasaran dan langsung datang ke Kulonprogo, Jawa Tengah hanya untuk melihat proses produksinya.

"Saya penasaran dengan gula semut, jadi saya sengaja pergi Kulonprogo hanya untuk melihat proses pembuatannya," kata Dubes Cho dalam sambutannya saat membuka penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara perusahaan Cheil Jedang (CJ) Group asal Korea dengan Koperasi Serba Usaha (KSU) Jatirogo, Jawa Tengah, Selasa (29/9/2015).

"Kenapa dinamai gula semut pak. Kalau kecil-kecil kan masih ada yang lebih kecil dari semut," Dubes Cho seperti bertanya kepada Ngatijo, Ketua KSU Jatirogo yang tengah duduk dihadapannya.

Ternyata, kata Dubes Cho, nama semut diberikan kerena gula hasil produk warga Desa Triharjo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulonprogo tidak seperti gula pada umumnya, ia tidak disukai oleh semut.

Penandatanganan nota kesepahaman itu  disaksikan Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UMKM Kemenkop UKM Meliadi Sembiring dan Direktur Jenderal KOTRA Indonesia Song Yoo Hwang, serta Dubes Republik Korea untuk Indonesia HE Cho Tae Young.

 

 

 

(Ris)

Share:

UMKM Kulonprogo Masih Terjerat Utang Rentenir

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Masalah klasik berupa permodalan masih saja menjadi kendala dalam pengembangan dan perberdayaan Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM) di Kulonprogo.

Hal itu diungkapkan Pimpinan PT Bank BPD DIY Cabang Wates, Riani Ernastuti, saat mengisi seminar kesehatan dan manajemen keuangan usaha di Gedung Kaca Kulonprogo, Selasa (29/9/2015).

Menurutnya, kebanyakan pelaku usaha UMKM di Kulonprogo kemudian berusaha memperkuat permodalan itu melalui tabungan.

Namun tidak jarang UMKM yang akhirnya harus meminta bantuan kerabat.

"Yang tidak bisa dipungkiri, ternyata masih banyak juga pelaku UMKM yang akhirnya mendapat modal dengan pinjaman renternir," kata Riani.

Dia menegaskan permasalahan itu harus diatasi dengan cara sinergi antar lembaga dan pemerintah.

Pasalnya, fakta di lapangan menunjukkan jumlah UMKM adalah yang terbanyak di antara jenis usaha yang ada di masyarakat.

Pihaknya menegaskan pula bahwa akses permodalan melalui perbankan memberi kesempatan luas untuk terus mengembangkan usaha.

"Kami siap memberi pelayanan permodalan untuk pedagang pasar, keliling, bahkan perajin yang bisa diakses secara kelompok maupun perorangan,” katanya.

Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, mengatakan dua hal antara kesehatan dan bekerja tidak akan terpisahkan. Sebab itu, proses kerja harus tetap didukung tubuh yang sehat.

"Selain permodalan, dua hal itu harus beriringan," kata Hasto.

Adapun seminar ini digelar oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kulonprogo.

Harapannya, melalui acara itu para pelaku UMKM di Kulonprogo dapat semakin bersemangat wirausaha dan wawasan kesehatan serta manajemen keuangan usaha. (tribunjogja.com)

Share:

Korea Kembangkan Koperasi dan UKM di Kulon Progo

Korea Kembangkan Koperasi dan UKM di Kulon Progo
Seorang pria berusaha mengangkat tumpukan bungkus susu dan jus yang telah disortir untuk didaur di koperasi Coopemare di Sao Paulo, Brasil, 3 Juni 2015. Koperasi tersebut mendapatkan sampah yang akan didaur ulang dengan membeli dari orang-orang pengumpul sampah dari rumah-rumah, pasar dan toko. REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta -  Sebuah perusahaan asal Korea Selatan, Cheil Jedang Group, berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dalam meningkatkan kesejahteraan petani gula kelapa di wilayah Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Rencana ini tercantum dalam  Memorandum of Understanding antara PT Cheil Jedang Indonesia dengan Koperasi Serba Usaha Jatirogo yang diselenggarakan di Hotel Grand Indonesia, Jakarta, Selasa, 29 September 2015.

Komisaris PT Cheil Jedang Indonesia yang juga mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Bernard Kent Sondakh, mengatakan bahwa melalui kesepakatan ini pihak perusahaan akan mendukung satu desa mengembangkan Koperasi Serba Usaha Jatirogo untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperbaiki fasilitas yang ada di desa tersebut. "Koperasi Serba Usaha Jatirogo memiliki produk gula kelapa yang baik, tentu ini adalah potensi bagus. Melalui nota kesepakatan ini kami akan membantu untuk memasarkan produk mereka melalui outlet-outlet kami yang tersebar di wilayah Jabodetabek," ujar Bernard.

Selain itu, melalui kesepakatan ini juga pihak perusahaan juga akan memberikan pendampingan untuk koperasi dalam mengembangkan sebuah produk. "Tidak hanya memberikan bantuan untuk distribusi, melalui program Corporate Sosial Responsibility kami juga memberikan bantuan berupa infrastruktur untuk mengembangkan produksi dari gula kelapa buatan operasi Serba Usaha Jatirogo," kata Bernard lagi.

Sementara itu Deputi Bidang Pengkajian Sumber Daya Manusia Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Meliadi Sembiring mengatakan, bahwa nota kesepakatan ini merupakan tindak lanjut dari program One Village One Product yang digagas oleh Korea Trade-Investment Promotion Agency beserta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah pada Oktober 2013.

Tujuan program ini adalah membangun daya saing daerah dengan menciptakan kompetensi inti bagi daerah tersebut. Karena itulah, tak banyak orang tahu mengapa produk unggulan desa amat penting. "Oleh karenanya, CJ Group akan melakukan kerjasama dengan memanfaatkan strategi dan teknik pemasaran yang dimiliki afiliasi kami di Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, khususnya Kulon Progo," ujar Meliadi.

Ia menjelaskan pengelolaan Koperasi Serba Usaha Jatirogo akan semakin optimal sehingga memiliki multiplier effect bagi produksi gula kelapa yang meningkat baik dari sisi kualitas dan kuantitas. Bahkan, bukannya tak mungkin, mampu menjadi ikon Kabupaten Kulon Progo. "Selain itu, dengan potensi produksi yang besar maka secara langsung akan berdampak pada kesejahteraan petani perajin gula semut yang semakin baik pula", Ucap Meliadi.

Share:

Soal Bandara Kulon Progo, Petani Kecewa Putusan MA

Sidang kasus Bandara Kulon Progo di PTUN DIY, beberapa waktu lalu. (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)
 
 
 
 
 
Metrotvnews.com, Yogyakarta: Mahkamah Agung (MA) mengabulkan kasasi gugatan rencana pembangunan Bandara Kulon Progo yang diajukan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Rizky Fatahillah, kuasa hukum petani Kecamatan Temon yang menolak pembangunan Bandara Kulon Progo, menyayangkan tindakan MA mengabulkan kasasi gugatan tersebut.

Menurutnya, pembangunan Bandara Kulon Progo bermasalah dalam hal perencanaan. Sebab, pembangunan tidak pernah disebutkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional dan RTRW DIY.

"Pihak kami menyayangkan MA yang mengabulkan putusan pemda karena putusan PTUN kami pikir sudah komprehensif," ujar Rizky yang merupakan salah satu anggota LBH Yogyakarta melalui sambungan telepon di Yogyakarta, Rabu (30/9/2015).

Ia khawatir ke depannya akan semakin banyak pembangunan bermasalah yang dibiarkan di Yogyakarta. "Kami khawatirkan akan melegitimasi pembangunan infrastruktur lain yang bermasalah," ucapnya.

Selain itu, pihaknya menilai dalam rencana pembangunan bandara, pemerintah bertindak sewenang-wenang dan tidak memperhatikan hak hidup dan hak pekerjaan petani di Kulon Progo.

"Kami lihat selama ini pemerintah hanya ingin gusur-gusur. Tapi tidak memperhatikan keinginan kawan petani. Yang kami bela bukan menolak bandara tapi mempertahankan kelangsungan hidup petani di Kulon Progo," tegasnya.

Pihaknya akan melakukan berbagai tindakan untuk membela kelangsungan hidup petani. Salah satunya melakukan upaya hukum dan komunikasi politik dengan pemerintah pusat.

"Upaya hukum lanjutan akan kami lakukan tetapi masih akan dibicarakan lagi. Perlu juga untuk melibatkan pemerintah pusat untuk melakukan upaya politik lebih luas, tujuannya agar pemda yang ingin membangun Bandara Kulon Progo mengerti aspirasi petani," pungkasnya.
SAN                        
Share:

Friday, September 25, 2015

Pemkab Kulonprogo Turunkan Tim Pemantau Hewan Kurban Kamis Besok

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Meski sudah ada yang melakukan

penyembelihan hewan kurban pada Rabu (23/9/2015), Pemkab Kulonprogo

baru akan menerjunkan tim pemantau pada Kamis (24/9/2015).



Kepala Kesehatan Hewan Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan

Kulonprogo, Drajat Purbadi, mengatakan pemantauan penyembelihan hewan

kurban pada Kamis akan dilakukan sekitar 195 petugas.



Para petugas yang diterjunkan ke lapangan itu, menurutnya, terdiri

atas 54 dokter hewan, 88 petugas kesehatan yang merupakan kader di

setiap desa, dan juga 53 mahasiswa Fakultas Kesehatan hewan UGM.



"Mereka diterjunkan untuk memantau penyembelihan hewan kurban pada

Kamis ini di Kulonprogo. Setiap desa diperkirakan akan dipantau oleh

tiga atau empat orang petugas," kata Drajat, Rabu (23/9/2015).



Drajat mengakui pada Rabu ini memang sudah ada beberapa lokasi yang

melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Meski demikian, pihaknya

belum menurunkan petugas pemantau ke lapangan.



Sebagaimana pantauan di lapangan, penyembelihan hewan kurban pada Rabu

ini salah satunya dilaksanakan masyarakat Durungan Kecamatan Wates.



Seusai melaksanakan salat Id, belasan warga Durungan ini

melanjutkannya dengan penyembelihan dua ekor sapi dan satu ekor

kambing. (*)
Share:

Gempa Yogya tak menimbulkan kerusakan di Kulon Progo

Merdeka.com - Kota Yogyakarta dilanda gempa bumi pada pukul 20.28 WIB.

Meski tak berlangsung lama, gempa ini sempat mengejutkan warga hingga

berhamburan ke luar rumah.



Bahkan guncangan dari gempa ini juga terasa hingga ke Desa Salamrejo,

Kulon Progo, Jawa Tengah. Namun, guncangan tersebut tidak terlalu

keras seperti di Kota Yogyakarta.



"Di sini berasa guncangannya, tapi enggak begitu keras. Hanya sedikit

bergetar hingga genting rumah bunyi. Kirain hujan, enggak tahunya

gempa," kata Glin, warga Jakarta yang saat itu tengah berada di Kulon

Progo, Jumat (25/9).



Glin menambahkan, guncangan tersebut hanya berlangsung beberapa detik

dan tidak menimbulkan kerusakan apapun. Namun beberapa warga sempat

berhamburan ke luar rumah.



"Sejauh ini belum ada kerusakan apa-apa, tapi warga sempat keluar

rumah. Gempanya juga sebentar enggak sampai tiga sampai lima menit,"

imbuh Glin.



Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan

Geofisika, Mochammad Riyadi, menyatakan gempa terjadi di Yogyakarta

berpusat di 12 kilometer arah barat laut Gunungkidul. Gempa itu

berkekuatan 4,6 SR dan berada pada kedalaman 10 kilometer.



Meski getaran gempa cukup kuat dirasakan hingga Kota Yogyakarta,

tetapi Riyadi memastikan gempa tersebut tidak berpotensi Tsunami,

sebab masih di bawah 5 Skala Richter. Dari laporan diterimanya, gempa

begitu terasa di daerah Bantul, Yogyakarta.



"Tidak ada potensi tsunami. Di Bantul yang terasa sekali," ucap Riyadi.
Share:

Warga Kulonprogo Berbondong-bondong Bawa Daging Kurban ke Penggilingan

Bisnis.com, KULONPROGO-Tempat penggilingan daging di Pasar Wates,

Kulonprogo diserbu warga, Kamis (24/9/2015). Mereka rela antre

berjam-jam demi menggilingkan satu atau dua kilogram (kg) daging sapi

yang diterima dari panitia pembagian hewan kurban.

Satu diantaranya adalah Basuki, warga Desa Krembangan, Kecamatan

Panjatan, Kulonprogo. Dia ingin membuat bakso dari gilingan daging

sapi. "Biar lebih tahan lama karena enggak punya kulkas," ungkap

Basuki.



Setahu Basuki, hanya ada tiga tempat penggilingan daging di sekitar

Wates. Dua di Pasar Wates dan satu lainnya di dekat Terminal Wates.

Menurutnya, dia memang harus antre karena tidak ada banyak pilihan.

Semua tempat penggilingan pasti ramai. "Ini sudah antre sejam tapi

masih kurang satu lagi. Tetangga saya nitip 1,5 kg," ujar berusia 37

tahun itu.



Basuki sendiri menggilingkan daging sapi sebanyak dua kg. Uang yang

harus dibayarkan mencapai Rp40.000. "Ini sudah sekalian dengan bumbu

baksonya. Nanti bisa langsung dimasak di rumah," paparnya.



Hal serupa dilakukan Titik Sriharyati. Tidak tanggung-tanggung. Dia

sudah antre hampir dua jam demi menggilingkan 2,6 kg daging sapi. "Ini

belum selesai. Tadi saya ke tempat lain tapi ternyata lebih banyak

yang antre," kata Titik.



Titik mengungkapkan, tidak ada tempat penggilingan daging di wilayah

tempat tinggalnya di Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kulonprogo.

"Punya kulkas buat menyimpan daging tapi kalau mau menggiling ya harus

ke Wates," ucapnya.



Sementara itu, pengelola tempat penggilingan daging di Pasar Wates,

Rusmin Nuryadin mengaku bisa menggiling daging sebanyak tiga hingga

empat kuintal per hari selama perayaan Idul Adha. Padahal, biasanya

hanya sekitar setengah kuintal. "Biasanya cuma melayani pelanggan dari

kalangan tukang bakso dan rumah makan padang," tuturnya.



Aji mumpung, Rusmin menaikkan harga jasa penggilingan hingga dua kali

lipat dibanding hari biasa. Konsumen jadi harus membayar Rp10.000 per

kg atau Rp20.000 per kg jika ingin sekalian dilengkapi bumbu.

"Ramainya paling lama sampai seminggu. Puncaknya tiga hari," kata

Rusmin menambahkan.



Editor : Nina Atmasari



Lihat arsip:

http://kwkp.blogspot.com
Share:

Edarkan Alprazolam, 2 Warga Sleman Diringkus

Harianjogja.com, KULONPROGO– Sebanyak dua warga Sleman dibekuk Satuan

Resnarkoba (Satresnarkoba) Kulonprogo karena kedapatan mengonsumsi dan

mengedarkan psikotropika. Ironisnya, obat tersebut diperoleh Sunyoto,

30, salah satu pelaku, menggunakan resep dokter.



Kasat Resnarkoba Polres Kulonprogo AKP Agus Nursewan mengungkapkan,

pelaku pertama, Sunyoto berhasil diringkus di rumahnya di Modinan,

Banyuraden, Gamping, Sabtu (19/9/2015) sore. Di hari yang sama,

petugas juga melakukan penggeledahan di rumah Nurdin, 19, pelaku lain

di rumahnya yang beralamat di Sumber Rahayu, Moyudan, Sleman.



"Kami mendapatkan informasi dari wilayah Kulonprogo, lalu kami

kembangkan. Motif pelaku yakni memiliki, menggunakan dan mengedarkan

psikotropika," ujar Agus, Rabu (23/9/2015).



Agus memaparkan, dari tangan pelaku berhasil diamankan empat butir pil

Mersi Alprazolam dan tujuh butir pil Riklona atau Clonazepam. Kedua

barang bukti itu saat ini masih dalam pemeriksaan di laboratorium

narkotika di Semarang, Jawa Tengah.



Dalam pemeriksaan yang dilakukan petugas, Sunyoto terbukti tidak hanya

sebagai pengguna. Pelaku juga mengakui telah memperjualbelikan obat

terlarang tersebut kepada rekannya. Akibat tindakannya itu, Sunyoto

dijerat dengan Pasal 62 atau Pasal 61 ayat 2 Undang-undang nomor 5

tahun 2007 tentang penyalahgunaan obat terlarang. Sedangkan, rekannya

Nurdin, dijerat dengan Pasal 62.



"Ancaman hukuman maksimal adalah lima tahun kurungan. Dari

pemeriksaan, Y [Sunyoto] sebagai pengedar," jelas Agus.



Kepada petugas, Sunyoto mengaku mendapatkan obat tersebut dari sebuah

apotik di Jogja. Awalnya, obat tersebut hanya dikonsumsinya sendiri

sebagai obat penghilang rasa sakit dan sulit tidur. Sunyoto mengaku,

sudah 13 tahun mengonsumsi obat jenis Mersi Alprazolam itu dan

mendapatkannya dari resep dokter.



Sunyoto mengatakan, dalam sekali periksa, obat yang ditebusnya

sebanyak 30 butir. Di mana, harga per 10 butir dibelinya seharga

Rp14.500.



"Karena butuh uang, saya jual ke teman per enam butir seharga

Rp72.000," ungkap Sunyoto.



Lihat arsip:

http://kwkp.blogspot.com
Share:

Archive

Breaking News

Wikipedia

Search results