Tourist knows Yogyakarta Indonesia

Top reviews

Wednesday, November 12, 2014

Kementerian Pangkas Anggaran, Tanjung Adikarto Kembali Gagal Beroperasi

Harianjogja.com, KULONPROGO-Dermaga Tanjung Adikarto di Kulonprogo

kembali gagal beroperasi. Pemangkasan anggaran sebesar Rp14 miliar

dari Kementerian Kelautan dan Perikanan disinyalir menjadi

penyebabnya.

Asisten II Sekretaris Daerah Kulonprogo Triyono membenarkan

pemangkasan anggaran di Kementerian Kelautan dan Perikanan menjadi

penyebab pengerukan muara tidak dapat dilakukan. Akibatnya, Tanjung

Adikarto belum dapat beroperasi pada tahun ini.

"Anggaran sebesar Rp14 miliar itu seharusnya untuk pengerukan muara,

supaya kapal-kapal besar dapat berlabuh, tetapi ternyata ada

pemangkasan anggaran di kementerian, sehingga kami tidak dapat berbuat

banyak," paparnya kepada wartawan, Selasa (11/11/2014).

Diakuinya, apabila tidak ada pemangkasan anggaran Tanjung Adikarto

dapat selesai sesuai target dan pada bulan ini dapat diluncurkan.

Selain, pengerukan muara yang terhenti, pembangunan pemecah ombak juga

belum dilanjutkan.

Rencananya, Pemkab Kulonprogo melalui Satuan Kerja Perangkat Dinas

(SKPD) akan mengajukan proposal ke Kementerian Kelautan dan Perikanan

untuk melanjutkan pembangunan Tanjung Adikarto.
Share:

Sunday, November 9, 2014

BANDARA KULONPROGO : PT AP I Berencana Adopsi Pendekatan Kultural, Seperti Apa?

Harianjogja.com, KULONPROGO--PT Angkasa Pura (AP) I berencana

mengadopsi pendekatan kultural yang dilakukan PT AP II dalam

pembangunan bandara baru di Kecamatan Temon. Hal itu diungkapkan

Direktur Kepersetaan dan Keuangan PT AP I Aryadi Subagyo seusai

pelaksanaan kunjungan kerja Pemkab Kulonprogo ke Bandara

Ineternasional Minangkabau (BIM) PT AP II di Padang Pariaman belum

lama ini.

Menurut Aryadi pendekatan kultural yang dilakukan PT AP II dalam tahap

pembebasan lahan dinilai efektif dan berhasil membuat warga percaya

serta membuktikan pembangunan bandara selalu berdampak positif bagi

warga sekitar. Dalam proses pembangunan BIM, tuturnya, pembebasan

lahan melibatkan tokoh adat yang memiliki sebagian besar tanah.

"Saya akan menyampaikan hasil pertemuan kepada jajaran direksi dan

menentukan langkah strategis selanjutnya," ujarnya belum lama ini.

Diungkapkannya, pembangunan bandara bukan untuk mencari keuntungan

karena dari segi bisnisbreak-even point(BEP) bandara baru yang berada

di Temon akan tercapai setelah 17 tahun. Ia menilai, pembangunan

bandara baru bertujuan untuk membuatcity airportpertama di Indonesia

yang berdampak pada kemajuan wilayah di sekitarnya.

"Kalau berpikir segi bisnis biar saja bandara tetap di Adisucipto dan

pengunjung berdesak-desakan, namun kami mengedepankan aspek pelayanan

sehingga kenyamanan tetap harus diutamakan," terang Aryadi.

Ia mengatakan dalam penerapan pendekatan kultural akan menggandeng UGM

untuk melakukan pemetaan sehingga jelas emografis

serta psikografis masyarakat setempat. Persoalan-persoalan lain yang

ditemukan dalam kunjungan, imbuhnya, juga akan ipaparkan secara detail

kepada direksi, seperti, latar belakang kepemilikan lahan, kondisi

lahan, dan sebagainya.
Share:

DPU Awasi Ketat Pelebaran Jalan Dudukan-Ngentakrejo

SENTOLO ( KRjogja.com)- Pimpinan dan anggota DPRD Kulonprogo minta

Pemkab setempat melakukan pengawasan secara ketat penggunaan material

proyek pelebaran ruas Jalan Dudukan-Ngentakrejo Kecamatan Sentolo. Hal

itu penting mengingat ruas jalan tersebut merupakan akses keluar masuk

ke kawasan industri.

"Penggunaan batu, pasir dan material lainnya harus betul-betul bagus.

Ruas jalan tersebut harus berkualitas tinggi agar tidak cepat rusak

saat dilewati kendaran-kendaraan yang bobotnya mencapai 24 ton," kata

Wakil Ketua I DPRD setempat Ponimin usai kunjungan lapangan bersama

Komisi III, Jumat (7/11/2014).

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul hasil kunjungan mereka yang

menduga kualitas proyek ruas jalan Dudukan-Ngentakrejo di bawah

kualitas standar.

Dengan rendahnya kualitas yang berakibat terjadinya kerusakan ruas

jalan akan merugikan Pemkab dan masyarakat Kulonprogo. "Saya juga

mengimbau rekanan menggunakan material lokal terutama batu dan pasir

serta koral. Untuk mendukung program bela dan beli Kulonprogo, rekanan

bisa memanfaatkan batu dan pasir dari daerah sekitar sini yang

kualitasnya sangat baik," jelasnya.

Ketua Komisi III (pembangunan) Hamam Cahyadi mendukung dan

mengapresiasi pelebaran jalan Dudukan-Ngentakrejo yang menghubungkan

wilayah Kecamatan Sentolo dan Lendah sebagai fasilitas umum guna

mendukung pengembangan wilayah tersebut sebagai kawasan industri yang

tentu saja sangat membutuhkan infrastruktur jalan bagus baik dari sisi

lebar maupun kualitasnya. Sehingga tidak cepat rusak saat dilalui

kendaraan bertonase berat.

"Kami mendukung pelebaran jalan tersebut. Karena selain faktor

pendukung yang dominan dalam pengembangan kawasan industri juga

menarik investor berinvestasi," tambahnya.

Demi terciptanya infrastruktur yang berkualitas Hamam minta DPU

melakukan pengawasan secara ketat terhadap pelaksanaan pembangunan

ruas jalan tersebut. Selain kualitas material dan hasil proyeknya

pengawasan terhadap waktu pengerjaannya juga harus dilakukan.

"Pengerjaan proyek tersebut harus diawasi betul agar kualitasnya bagus

dan waktu pelaksanaan pekerjaan tidak terlambat. Apalagi sekarang

sudah bulan November dan pelaksanaan waktu anggaran hanya tinggal

sekitar 1,5 bulan lagi. Diperparah dengan masuknya musim hujan yang

kemungkinan akan menghambat pekerjaan," tegasnya.(Rul)
Share:

Suapi Anak Dengan Cairan Pembersih Lantai, Sekeluarga Terkapar di RS

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO -Gara-gara minum cairan pembersih lantai

(Wipol), seorang ibu, Indah Nurul (33), dan dua anaknya, Muhammad

Tsani Nur (4) dan Ridwan Aditia (9), dilarikan ke RSUD Wates

Kulonprogo, Kamis (6/11) malam. Jumat kemarin (7/11/2014), tiga pasien

sekeluarga asal Tambak Triharjo Wates itu menjalani perawatan di

bangsal rumahsakit tersebut.

Informasi dihimpun dari rumahsakit itu menyebutkan, tiga pasien datang

diantar keluarganya. Ketiganya mengalami sakit pada perut, perih, mual

dan pusing, setelah beberapa menit sebelumnya meminum cairan pembersih

lantai jenis Wipol.

Namun, apa motif perbuatan itu dilakukan dan bagaimana kejadiannya,

sampai kemarin keluarga belum dapat dimintai keterangan. Sejumlah

tetangga dan nenek pasien itu mengaku tidak mengetahuinya. Sementara,

suami dan ayah pasien itu tetap bekerja di instansi pemerintah di

Kulonprogodan belum bisa ditemui.

Yang jelas, akibat meminum cairan pembersih lantai itu, kemarin

ketiganya dilaporkan sudah membaik dan sadar. Setelah diterima bagian

Instalasi Gawat Darurat pada Kamis malam, diniharinya pasien

dipindahkan ke bangsal perawatan. Kedua anak di bangsal Cempaka bahkan

sudah bisa berjalan-jalan meski tetap menggunakan selang dan infus.



Pengakuan Ridwan, salah satu pasien anak, dia meminum cairan pembersih

lantai karena diberikan oleh ibunya. Menurutnya, cairan itu diminum

menggunakan sendok. "Diberi pakai sendok," katanya, sembari terbaring

di bangsal Cempaka kemarin.

Laura Christanti, dokter residen anak yang menangani keduanya,

mengatakan, peristiwa itu terjadi bersamaan dengan sang ibu yang juga

meminum cairan tersebut. Berdasarkan keterangan pasien, menurutnya,

memang benar ibunya meminum, kemudian juga memberikannya pada dua

anaknya.

"Belum tahu alasannya meminum. Tapi kondisi anak sudah bagus. Hanya

masih merasakan agak nyeri di perut," katanya.

Kepala Bangsal Edelweis, Nurwahid, yang menangani pasien dewasa,

mengatakan ibu anak-anak itu, Indah Nurul seperti dua anaknya, juga

mengalami intoksitasi pembersih lantai. "Secara umum ketiganya sadar

penuh. Sekarang memakai selang untuk cuci lambung," ujarnya.

Wakil Direktur Pelayaanan Medis RSUD Wates, Witarto, menyampaikan,

ternyata pasien keracunan setelah meminum pembersih lantai jenis

Wipol. Dia menduga, dua anak diberi cairan itu tidak terlalu banyak

karena saat ini kondisinya cepat membaik.

"Kondisinya mulai stabil. Tapi bagaimana kejadiannya belum bisa

ditanya karena trauma," katanya. (*)
Share:

Puluhan Personel Kodim 0731 Cabut Paku di Pohon

Harianjogja.com, KULONPROGO-Puluhan personel Kodim 0731 Kulonprogo

mencabut ratusan paku yang tertancap di pepohonan di kawasan Alun-alun

Wates dan jalan-jalan utama, Jumat (7/11/2014).

Kegiatan ini dilakukan serentak oleh personel yang berada di bawah

jajaran Kodam IV Diponegoro untuk membersihkan lingkungan dan

mewujudkan pohon yang sehat di lingkungan sekitar.

Pasiter Kodim 0731 Kulonprogo Kapten CPL Wasito menuturkan pencabutan

paku dilakukan sesuai dengan perintah Danrem 072 Pamungkas. Tujuannya,

dalam rangka menjaga kesehatan pohon, mengingat pohon adalah makhluk

hidup.

"Bisa dibayangkan bagaiaman kalau makhluk hidup tertancap paku, oleh

karena itu kami membersihkannya," ujarnya.

Diakuinya, kegiatan pencabutan paku baru pertama kali dilakukan

jajaran Kodim 0731 Kulonprogo dan diperkirakan jumlah paku yang

tertancap di pepohonan di atas 500-an buah.

Satu pohon, kata Wasito, rata-rata lebih dari lima paku. Pencabutan

paku dilakukan dengan menggunakan batang besi, tang, dan batu,

tergantung dari jenis dan bentuk paku yang tertancap.

Terpisah, Kepala Satpol PP Kulonprogo Duana Heru mengungkapkan paku

yang tertancap di pohon biasanya digunakan untuk menempelkan reklame

yang tidak berizin. Dikatakannya, penertiban rutin dilakukan DPPKA,

baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan Satpol PP.
Share:

Thursday, November 6, 2014

Dapat Bantuan Rp900 Juta, Ini Rencana Pasar Watu Ombo

Harianjogja.com, KULONPROGO-Rencana revitalisasi pasar tradisional

melalui koperasi untuk Pasar Watu Ombo di Desa Salamrejo segera

dilakukan.

Program tersebut merupakan program yang dilakukan Kementerian Koperasi

dan Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk pengembangan pasar.

Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Gangsar Sentolo Harowi Muhyati

mengatakan, KUD ini ditunjuk sebagai penerima program melalui anggaran

tahap kedua. Penetapan tersebut telah ditetapkan melalui SK Deputi

Menteri Koperasi dan UKM Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha

No.291/Kep/Dep.4/IX/2014.

"Dalam waktu dekat Pasar Watu Ombo akan segera direvitalisasi dengan

menambah sarana usaha," ujar Harowi kepada wartawan, Selasa

(4/11/2014).

Harowi mengatakan, sebelumnya sosialisasi rencana pengembangan pasar

telah dilakukan bersama pihak Kementerian Koperasi dan UKM. Untuk

merevitalisasi pasar tersebut, dana yang diterima sebesar Rp900 juta.

Menurut dia, dana tersebut hanya digunakan untuk pembangunan fisik

berupa 20 unit kios, dua unit los dan dua unit toilet. "Pelaksanaan

pembangunan dilakukan secara swakelola dan jangka waktu pelaksanaan

selambat-lambatnya 90 hari," jelas Harowi.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kulonprogo Sri Hermintarti mengatakan,

program revitalisasi pasar tradisional merupakan program strategis dan

prioritas nasional.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, tujuan dari program itu adalah

memberdayakan koperasi, meningkatkan sarana usaha bagi pedagang

anggota koperasi dan meningkatkan kenyamanan berbelanja.

"Harapannya pasar itu akan terkesan bersih, nyaman, tidak kumuh, tidak

bau dan tidak becek. Selain itu, tujuan penting dari program tersebut

adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," jelas Hermin.

Hermin juga mengharapkan agar para pedagang di Pasar Watu Ombo juga

dapat meningkatkan diri. Dia mengatakan, peningkatan itu tidak hanya

dalam jumlah dan jenis barang dagangannya saja, tetapi juga frekuensi

serta lama berjualan.

"Kami juga berharap agar koperasi juga dapat membuka pelayanan simpan

pinjam di Pasar Watu Ombo, sehingga kebutuhan pinjaman modal usaha

para pedagang dapat dicukupi dari koperasi dan pedagang akan terbebas

dari rentenir," imbuh Hermin.
Share:

Wednesday, November 5, 2014

Daging Ikan Paus itu Dibuat Tongseng

WATES ( KRjogja.com) -Setelah disembelih dandibethethi,ikan paus yang

terdampar di kawasan pesisir Pantai Karangwuni Wates, dagingnya

dipotong-potong lalu dibagi-bagikan kepada warga sekitar. Lantas

diapakan daging itu? Pasti untuk lauk makan.

"Akan saya buat tongseng," kata Mujiarti, salah satu warga yang

mendapat pembagian daging itu.

Mujiarti sendiri mengaku penasaran terhadap rasa daging ikan paus.

Sebab ia baru pertama kali melihat tekstur daging ikan itu dan akan

memasaknya. "Saya penasaran ingin mencicipi dagingnya," tambahnya.

Menurut warga yang juga mantan kades, Winarto, anak ikan paus

ditemukan warga dalam kondisi mati di kawasan pesisir pantai

Karangwuni. "Karena sudah mati, ikan akan dikubur, tapi atas

kesepakatan warga, ikan dipindahkan memakai kendaraan bak terbuka ke

pinggir pantai dan akhirnya ikan disembelih dan dagingnya dibagi,"

ujar Winarto. (Wid)
Share:

Tuesday, November 4, 2014

Ingin Jawaban atas 12 Permohonan, IKB PPLP Ancam Tolak Konsultasi Publik

Harianjogja.com, KULONPROGO-Warga dan petani terdampak pembangunan

bandara berharap 12 persyaratan yang diajukan kepada Bupati

Kulonprogo Hasto Wardoyo, segera mendapatkan kepastian jawaban.

Apabila kepastian tidak kunjung dipenuhi, warga yang tergabung dalam

Ikatan Keluarga Besar Pemilik Lahan dan Petani Penggarap (IKB PLPP)

Desa Palihan, Temon itu akan menolak tahapan konsultasi publik.

Ketua IKB PLPP Kalisa Paraharyana mengatakan, warga terdampak proyek

tersebut belum merasa puas terhadap hasil audiensi dengan Bupati pekan

lalu. Pada audiensi tersebut, IKB PLPP mengajukan 12 persyaratan

kepada pihak pemerintah Kulonprogo.

"Kami ingin 12 persyaratan yang kami ajukan segera ada kepastian.

Apabila belum ada kepastian, maka warga sepakat untuk tidak mengikuti

tahapan tersebut [konsultasi publik]," ujar Kalisa kepada wartawan,

Senin (3/11/2014).

Kalisa mengatakan, 12 persyaratan tersebut merupakan permintaan warga

terkait nasib mereka usai pembangunan bandara dilaksanakan. Dia

mengatakan, warga menginginkan agar permohonan warga dapat disepakati

dalam nota kesepakatan.

"Warga terdampak [proyek bandara] tetap menuntut 12 permohonan

tersebut untuk segera terwujud suatu kepastian dalam nota

kesepakatan," jelas Kalisa.

Sekretaris IKB PLPP Mawarno mengatakan, rencana pelaksanaan tahapan

konsultasi publik akan dilakukan pada minggu ketiga pada November ini.

Sebelum dilakukan tahapan tersebut, dia berharap adanya kejelasan

sikap dari Pemkab untuk dapat segera menindaklanjuti hal tersebut.

Lebih lanjut dia menegaskan, pada dasarnya IKB PLPP tidak anti

terhadap rencana pembangunan bandara, tetapi anti terhadap penindasan.

Kejelasan persyaratan yang diajukan warga tersebut diharapkan dapat

keluar dalam sebuah kesepakatan yang memiliki kekuatan hukum.

"Apapun bentuk kesepakatannya, yang terpenting memiliki kekuatan

hukum. Tujuannya agar kesepakatan tersebut dapat dibuktikan nantinya

apabila ada permasalahan dikemudian hari," kata Mawarno
Share:

Komisi III DPRD Kabupaten Kulonprogo dukung pembangunan jembatan ngelo

KULONPROGO ( KRjogja.com) -Rencana pembangunan jembatan Ngelo di

Pedukuhan Kalibondol Sentolo didukung oleh Komisi III DPRD Kabupaten

Kulonprogo. Sebab bila jembatan sudah berfungsi, menjadi solusi

strategis untuk mengatasi padatnya arus lalu lintas di depan pasar

Sentolo lama. Terutama pada jam-jam sibuk atau ketika ada kereta api

yang melintas di palang pintu sebelah barat pertigaan Sentolo.

Jembatan tersebut rencananya akan melintasi jalur rel kereta api di

sebelah barat perempatan Ngelo Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo bakal

dibangun tahun 2015. Ini mendatangkan fungsi yang menghubungkan ruas

jalan dari pasar Sentolo lama ke arah perempatan Ngelo.

Ketua Komisi III Hamam Cahyadi ST menyatakan pihaknya mendukung

pembangunan jembatan ini. "Sebab akan menjadi solusi untuk mengurangi

kepadatan ruas jalan Sentolo-Wates yang di saat jam-jam sibuk memang

sudah cukup padat,"kata Hamam Cahyadi ketika kunjungan kerja (kunker)

di lokasi pembangunan jembatan itu.

Disamping Hamam, kunker diikuti pula Wakil Ketua Komisi Sugiyanto,

Sekretaris Komisi Sarkowi dan anggota Arif Syarifudin. Sedangkan dari

Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kulonprogo hadir Kabid Bina Marga Ir Gusdi

Hartono MT dan Kasi Pemeliharaan dan Pembangunan Jembatan Yuniar

Wibowo Amd.(Wid)
Share:

Central Business District, Dekso Diharapkan Kompetitif

KULONPROGO ( KRjogja.com)- Sebagai wilayah strategis, Dekso menjadi

penghubung perdagangan hasil komoditas bagi daerah di sekitarnya,

yaitu Samigaluh, Girimulyo dan Kalibawang ke wilayah lain di

Kulonprogo maupun ke daerah lain. Karena posisinya mampu sebagai

wilayah penyedia barang dan jasa bagi daerah hinterland di sekitarnya.



Hal itu disampaikan Bupati Kulonprogo dr H Hasto Wardoyo SpOG(K) dalam

jawaban bupati terhadap pendapat panitia khusus dan pemandangan umum

fraksi-fraksi terhadap Raperda tentang Rencana Detail Tata Ruang

(RDTR) Kawasan Bagian Wilayah Perkotaan Dekso Tahun 2014-2034 dalam

rapat paripurna (Rapur) DPRD, Senin (03/11/2014) di gedung Dewan

setempat. Rapur dipimpin Ketua DPRD Akhid Nuryati, dihadiri Wabup Drs

H Sutedjo serta segenap Kepala SKPD di lingkungan Pemkab.



"Rencana penataan ruang yang tepat dan dukungan infrastruktur berupa

jalan, air, listrik serta sarana prasarana pendukung aktivitas

terhadap zona perdagangan barang dan jasa, maka diharapkan wilayah

perkotaan Dekso Kompetitif sebagai Central Business District (CBD),"

tuturnya.



Ditambahkan Hasto, penetapan RDTR bagi Dekso, merupakan pula upaya

untuk menstimulir masuknya investasi guna mendorong perkembangan

perekonomian bagi wilayah Dekso dan kawasan Perbukitan Menoreh secara

umum. "Sehubungan perkotaan Dekso merupakan pusat kawasan agropolitan

dan pintu gerbang kawasan wisata Menoreh, maka investasi diharapkan

adalah yang berhubungan dengan bidang pertanian dan pariwisata. Baik

yang bergerak dalam bidang jasa, perdagangan maupun industri sesuai

fungsi kawasan," ujar Hasto.

Dipaparkan Hasto, sejak tahun 2012 Pemkab Kulonprogo sudah menyusun

tujuh draf Raperda RDTR, yakni Dekso, Temon, Wates, Sentolo,

Nanggulan, Brosot dan Lendah. Selain itu dua draf Raperda RDTR kawasan

strategis yakni kawasan bandara dan kawasan industri Sentolo. Tapi

draf tersebut belum ditetapkan menjadi Perda karena itu belum bisa

dipublikasikan.(Wid)
Share:

Archive

Breaking News

Wikipedia

Search results