Tourist knows Yogyakarta Indonesia

Top reviews

Wednesday, January 14, 2015

Dua Kecamatan di Kulonprogo Endemis Malaria

KULONPROGO ( KRjogja.com)- Dua wilayah di Kabupaten Kulonprogo yakni

Kecamatan Kokap dan Girimulyo yang ada di kawasan perbukitan menoreh

merupakan daerah endemis nyamuk Anopheles yang menjadi vektor malaria.

Dengan kondisi tersebut Kabupaten Kulonprogo sulit bisa terbeas dari

penyakit malaria.

Menurut Kasi Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas

Kesehatan (Dinkes) setempat Buddy Ismanto agar daerah ini tereliminasi

dari penyakit malaria maka dibutuhkan kerjasama lintas provinsi.

"Dilihat dari kasus kejadian, sesungguhnya penyakit malaria di

Kulonprogo sudah menurun drastic. Pada 2012 tercatat 241 penderita dan

pada 2013 turun jadi 137 kasus. Terakhir, 2014, jumlah penderita hanya

81 orang," katanya saat rapat kerja dengan Komisi IV DPRD Kulonprogo

di gedung dewan setempat, Rabu (14/01/2014).

Dijelaskan penanganan penyakit malaria di Kulonprogo, memang relatif

rumit dan pelik. Penyakit ini banyak dibawa nyamuk Anopheles di

wilayah Kokap dan Girimulyo. Padahal letak dua kecamatan tersebut

berbatasan langsung dengan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. "Butuh

penanganan lintas sektoral dalam menuntaskan masalah ini," tambahnya.

Dalam upaya mencari formulasi yang pas mengatasi kasus penyakit

malaria di daerah perbatasan tesebut, sesungguhnya Pemerintah DIY dan

Pemerintah Propinsi Jateng telah duduk bersama. Tapi paktanya kasus

penyakit malaria hingga kini belum bisa dituntaskan. Apalagi pada 2014

di Purowrejo masih ada sekitar 700 penderita sementara juru malaria

desa (JMD) hanya 20 orang dengan waktu kerja empat bulan. "Khusus di

Kulonprogo, jumlah JMD sudah banyak dan aktif melakukan

pemberantasan," jelasnya.

Untuk kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kulonprogo juga telah

mengalami penurunan. Pada 2013 ada 144 kasus, maka pada 2014 tinggal

120 kasus. "Hanya saja pasien yang meninggal justru meningkat dari

satu pasien menjadi dua orang," terangnya.

Wakil Direktur Pelayanan Medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates dr

Wintarto menjelaskan, jumlah pasien yang menjalani rawat inap di rumah

sakit tersebut cukup tinggi. Hal tersebut berkat adanya kemudahan

layanan kesehatan baik yang diampu dengan Jamkesmas, Jamkesda dan

keterangan warga miskin maupun jaminan kesehatan lainnya.

"Konsekuensinya banyak warga memiliki kesadaran tinggi untuk

memeriksakan kesehatannya di rumah sakit. Ironisnya masih ada pasien

yang secara medis boleh pulang tapi mereka malah ngotot ingin opname.

Salah satu alasan mereka enggan meninggalkan rumah sakit karena semua

tetangga belum besuk," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi IV dari Fraksi PDI Perjuangan

Edi Priyono mengatakan perlu adanya pembangunan mental bagi

masyarakat. Perilaku hidup bersih dan sehat harus terus

disosialisakan. "Jika perlu dinas melakukan pengawasan kepada pedagang

makanan yang ada di sekolah. Sebab masih banyak makanan kurang sehat

dijual bebas di lingkungan sekolah," ungkapnya.(Rul)
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Archive

Breaking News

Wikipedia

Search results